MAKALAH ILMU KALAM “SYI’AH” BUKAN ISLAM?

DAFTAR ISI

 

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………… 1

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………. 2

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………………………… 3

  1. Latar Belakang……………………………………………………………………………………. 3
  2. Rumusan Masalah……………………………………………………………………………….. 3
  3. Tujuan Penulisan…………………………………………………………………………………. 3

BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………………………………….. 4

  1. Pengertian dan Sejarah Syi’ah……………………………………………………………….. 4
  2. Sekte-Sekte Syi’ah………………………………………………………………………………. 5
  3. Aqidah, Ajaran, dan Penyimpangan Syi’ah dari Ahlusunnah…………………….. 6
  4. Perbedaan Antara Syi’ah dengan Ahlusunnah…………………………………………. 14
  5. Riwayat Hadist Palsu Syi’ah…………………………………………………………………. 18
  6. Penyebaran dan Situs-situs Syi’ah…………………………………………………………. 19
  7. Perkembangan dan Konflik Syi’ah di Indonesia……………………………………… 28
  8. Fatwa-fatwa MUI Mengenai Syi’ah………………………………………………………. 29

BAB III PENUTUP………………………………………………………………………………………. 33

  1. ………………………………………………………………………………………… 33

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………….. 33

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Alhamdulillah berkat limpahan taufiq dan hidayah Allah Azza wajalla kita dapat menjalankan aktivitas khususnya dibidang pengembangan sumber daya dan kreatifitas kita dalam perwujudan pembelajaran di dalam kampus tercinta.

Sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Akhiruzzaman Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, dengan suatu harapan semoga kita semua selalu mendapat syafaatnya utamanya Syafaatul Udzma. Amiin.

Selanjutnya, saya sangat berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam penulisan makalah sebagai tugas dalam studi Ilmu Kalam yang diampau oleh Drs. H. Mufid Fadly, M. Ag dengan judul “SYI’AH”.

Kemudian, dengan segala permohonan ridho yang saya harapkan, semoga kesalahan yang ada pada makalah ini dapat dimaafkan dan mendapatkan segala ridho dari yang mempunyai ridho ataupun yang sama sama mengharapkan ridho. amiin

 

Wonosobo, 12 September 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Zat Yang Maha Sempurna nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Saudaraku, sesungguhnya jalan kebenaran sangatlah jelas, begitu pula jalan kesesatan begitu gamblangnya. Semuanya telah ditunjukkan oleh Allah Ta’ala dan diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sejelas-jelasnya.                                                                                                                                          Maka barangsiapa yang mengambil petunjuk dari Allah dan rasul-Nya dia akan meniti jalan kebenaran, sedangkan yang meninggalkannya akan terjerumus ke dalam jurang kesesatan. Diantara kelompok yang jauh menyimpang dari ajaran Allah dan rasul-Nya adalah ajaran Syi’ah.                                                                                                                 Walaupun mereka mengaku Islam, namun hakekatnya mereka bukanlah Islam, bagi yang menyimpang. Kita akan lihat bagaimana akidah dan keyakinan Syi’ah yang disebutkan dalam kitab-kitab mereka sehingga kita bisa menilai siapa mereka sesungguhnya

  1. Rumusan Masalah

 

  1. Apakah pengertian Syi’ah ?
  2. Bagaimana sejarah Syi’ah
  3. Seperti apa sekte-sekte Syi’ah ?
  4. Apakah aqidah, ajaran, dan penyimpangan Syi’ah dari Ahlusunnah ?
  5. Seperti apakah perbedaan antara Syi’ah dengan Ahlusunnah ?
  6. Bagaimanakah riwayat hadist palsu Syi’ah ?
  7. Bagaimanakah penyebaran Syi’ah ?
  8. Apa saja situs-situs Syi’ah ?
  9. Bagaimana perkembangan dan konflik Syi’ah di Indonesia ?
  10. Bagaimana Fatwa-Fatwa Majelis Ulama’ (MUI) Mengenai Syi’ah di Indonesia ?

 

  1. Tujuan Penulisan

 

Makalah ini disusun  bertujuan agar kita mengetahui dan tidak sampai terjerumus dalam aliran yang menyimpang dari ajaran Ahlusunnah.

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Syi’ah dan Sejarah Syi’ah

 

Yang saya dapatkan dari berbagai macam sumber, Syiah menurut etimologi bahasa arab bermakna pembela dan pengikut seseorang, selain itu juga bermakna setiap kaum yang berkumpul diatas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah, 3/61 karya Azhari dan Taajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi)

Adapun menurut terminologi syariat, syiah bermakna mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk menjadi khalifah kaum muslimin, begitu pula sepeninggal beliau (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal karya Ibnu Hazm)                                              Syiah mulai muncul setelah pembunuhan khalifah Utsman bin ‘Affan. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, masa-masa awal kekhalifahan Utsman yaitu pada masa tahun-tahun awal jabatannya, Umat islam bersatu, tidak ada perselisihan. Kemudian pada akhir kekhalifahan Utsman terjadilah berbagai peristiwa yang mengakibatkan timbulnya perpecahan, muncullah kelompok pembuat fitnah dan kezhaliman, mereka membunuh Utsman, sehingga setelah itu umat islam pun berpecah-belah.                                                                                                                              Ada yang menganggap Syi’ah lahir pada masa akhir kekhalifahan Ustman bin Affan, atau pada masa awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Pada  masa itu terjadi pemberontakan terhada khalifah Ustman bin Affan, yang berakhir dengan kesyahidan Ustman dan ada tuntutan agar Ali bin Abi Thalib bersedia dibaiat sebagai khalifah. Tampaknya pendapat yang paling populer bahwa Syi’ah lahir setelah gagalnya perundingan antara pihak pasukan khalifah Ali bin Abi Tholib dengan pihak Muawiyyah bin Abu Sufyan di suffin yang lazim disebut sebagai peristiwa at-Tahkim (arbitrasi).                                                                                                                      Akibat kegagalan itu, sejumlah pasukan Ali menentang dan keluar dari pasukan Ali. Mereka disebut dengan golongan khawarrij (orang-orang yang keluar dari pasukan Ali). Sebagian besar orang yang tetap setia dengan khalifah disebut dengan Syi’ah Ali (Pengikut Ali).[1]

Namun perlu diketahui, bahwasanya pengikut Ali pada zaman itu hanya bersifat pembelaan kepada Ali pada saat melawan pihak Mu’awiyah, dan tidak bercorak aqidah pada masa sesudahnya. Karena sebagaian dari pengikut Ali adalah dari kalangan shahabat nabi dan para tabi’in, dan tidak ada keyakinan bahwa Ali yang berhak dan lebih utama setelah kekhalifahan Rosulullah dari pada Abu Bakar dan Umar bin Khotab.

Pada intinya, kemunculan Syi’ah terjadi setelah Ali dan Mu’awiyah berperang, yang disebabkan Mu’awiyah menuntut Ali untuk menuntaskan masalah terbunuhnya khalifah Ustman bin Affan, lantas Mu’awiyah memberikan tanda damai kemudian Ali menyetujuinya.

 

  1. Sekte-sekte Syi’ah

Akar perpecahan diantaranya; Imam pertama Ali, kemudian Hasan bin Ali, lalu Husain bin Ali. Namun mereka berbeda pendapat mengenai pengganti imam Husain, menjadi dua kelompok:

Pertama: Imamah beralih kepada Ali, putra Husain bin Ali.                                  Kedua: Imamah beralih kepada Muhammad bin Hanafiyah, putra Ali bin Abu Thalib.    Berdasarkan perbedaan antara kedua kelompok ini, muncullah sekte-sekte syi’ah sebagai berikut:

  1. Kasaniyah (Kelompok ini telah lampau punah)

Kasaniyah diambil dari nama bekas budak imam Ali, bernama Kaisaran. Mereka mempercayai kepemimpinan Muhammad bin Hanafiyah dan terbagi menjadi:

  1. Karabiyan: Mempercayai bahwa Muhammad bin hanafiyah tidak mati, tetapi hanya gaib dan akan kembali di akhir zaman sebagai Imam Mahdi.
  1. Hasyimiyah: Mempercayai bahwa Muhammad bin Hanafiyah telah meninggal, namun jabatan Imamah beralih kepada anaknya, Abi Hasyim.

 

  1. Zaidiyah

Mempercayai kepemimpinan Zaid bin Ali bin Husain bin Ali, setelah kepemimpinan Husain bin Ali. Merupakan sekte Syi’ah moderat, karena mengaku keabsahan Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khatab dan meyakini bahwa Imamah tidak harus dengan nash, tapi boleh dengan pemilihan. Diantara pendapatnya;

  1. Jarudiyah: Menganggap Nabi Muhammad telah menentukan Ali sebagai Imam, tapi melalui isyarat (menyinggung) atau al-Washf (menyebut keunggulan dibanding yang lain).
  2. Sulaimaniyah: Menganggap bahwa pemimpin dipilih dengan sistem musyawarah dan tidak harus yang terbaik diantara kaum Muslimin.
  3. Badriyah atau Shalihiyah: Berpandangan sama dengan Sulaimiyah tapi dalam masalah Utsman mereka berdiam diri atau tawaqquf. Kelompok ini berkembang sampai saat ini di Yaman (bagian utara), Sawahil, Tabaristan dan Najran (setelah Saudi Arabia)

 

 

 

  1. Ghulat (Kelompok ini telah punah)

Kelompok ekstrem yang berlebih-lebihan dalam memuji Ali bin Abi Thalib.

  1. As-Shabaiyah: Menganggap Ali jelmaan dari Tuhan atau bahkan Tuhan itu sendiri, Ali masih hidup dan diangkat ke langit, sedangkan yang terbunuh orang lain yang diserupakan.
  2. Al-Ghuraiyah: menganggap Ali manusia biasa tetapi dialah yang seharusnya menjadi utusan Allah, bukan Muhammad.

 

  1. Imamiyah

Imamiyah merupakan sekte terbesar Syi’ah saat ini, berkembang di Iran dan diikuti beberapa kalangan di Indonesia. Kelompok ini meyakini bahwa Nabi Muhammad telah menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai Imam pengganti dengan jelas dan tegas. Tidak mengakui kepemimpinan Abu Bakar, Umar maupun Ustman. Meyakini bahwa Imam pertama adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian secara berturur-turut Hasan, Husain, Ali bin Husain, Muhammad al-Baqir dan Ja’far ash-Sadiq. Kemudian setelah itu mereka berbeda pendapat mengenai pengganti Ja’far.

  1. Isma’iliyah: Meyakini bahwa jabatan Imamah tersebut pindah kepada anak Ja’far Ash Shidiq yang bernama Isma’il.
  2. Itsna Asyariyah (dua belas mam): Meyakini bahwa jabatan Imamah tersebut pindah kepada anak Ja’far Ash Sadiq yang bernama musa Al-Khazim.

 

  1. Aqidah, Ajaran, dan Penyimpangan Syi’ah dari Ahlussunah

 

  1. Keyakinan Syi’ah tentang Imam Mereka

Dalam keyakinan kelompok Syi’ah, para nabi dan imam Syi’ah adalah ma’shum (terhindar dari perbuatan) baik dosa besar maupun dosa kecil. Selain itu, mereka juga sepakat bahwa tawalli (menolong para imam) dan tabari meninggalkan musuh musuhnya) adalah wajib hukumnya, baik dilakukan dalam bentuk ucapan, perbuatan, maupun keyakinan.

Perlu diketahui, salah satu konsep Syi’ah yang dijadikan sebagai dasar aqidahnya adalah tasyayyu’ (mendukung Ali). Di antara ajaran mereka adalah cahaya (nur) Tuhan akan berpindah ke dalam tubuh keluarga-keluarga pilihan, dan Syahansyah adalah lambang dari perpindahan ruh Tuhan dari seorang bapak ke anaknya. Dari sinilah, dalam masalah pengangkatan seorang iman, mereka tidak mau melakukan dengan cara pemilihan seperti yang dilakukan oleh orang orang arab pasca wafatnya Nabi Muhammad saw.

Mereka berpendapat bahwa bahwa imamah merupakan hak Ali Bin Abi Thalib secara mutlak dan tidak akan jatuh ke tangan orang lain selain keturunan Ali Bin Abi Thalib. Dan seandainya  imamah jatuh ketengan orang lain maka mereka berpendapat hal yang demikian adalah sebuah kedholiman orang tersebut

Berikut adalah nama dan periode dua belas imam Syi’ah yang telah mereka yakini ke ma’shumanya

NO NAMA WAFAT
1 Ali  bin Abi Thalib 41 H / 661 M
2 Al- Hasan bin Ali bin Abi Thalib 49 H / 669 M
3 Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib 61 H / 680 M
4 Ali bin Husain Zainal Abidin 94 H / 712 M
5 Muhammad bin  Ali al Baqir 113 H / 731 M
6 Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq 146 H / 765 M
7 Musa bin Ja’far al Kazhim 128 H / 203 M
8 Ali bin Musa ar-Ridha 203 H / 818 M
9 Muhammad bin Ali al-Jawwad 221 H / 835 M
10 Ali bin Muhammad al-Hadi 254 H / 868 M
11 Al Hasan bin Ali al- ‘Askari 261 H / 874 M
12 Muhammad bin al-Hasan al-Mahdi al- Muntazar 265 H / 878 M

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di antara akidah Syi’ah tentang imam-imam mereka adalah :

  1. Syi’ah menyakini bahwa imam-imam mereka adalah perantara antara Allah dan makhluk-Nya (Kitab Baharul Anwar 23/5-99)
  2. Syi’ah tidak membedakan antara Allah dan imam-imam mereka (Lihat Mashabihul Anwar 2/397)
  3. Syi;ah meyakini bahwa imam-imam mereka tidaklah berbicara keculai berdasarkan wahyu (Kitab Baharul Anwar 17/155)
  4. Syi’ah meyakini bahwa imam-imam mereka memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh para nabi dan malaikat (Al Hukumah Al Islamiyah 52)
  5. Syi’ah meyakini bahwa perhitungan amal seluruh makhluk pada hari kiamat adalah kepada imam mereka (Kitab Al Fushuul Muhimmah fii Ushuulil Aimmah 1:446)
  6. Syi’ah meyakini bahwa menziarahi kuburan para imam dan wali mereka merupakan suatu kewajiban dan kafir bagi yang meninggalkannya ( Kitab Kamaluz Ziyaarat 183)
  7. Kitab-Kitab Syi’ah

Dalam catatan sejarah Syi’ah, Nabi memiliki sebuah shahifah, lembar lembar kertas yang selalu digantungkan di bahu pedang beliau (Shahifah Dzu’abah as-Saif). Kemudian Rosullullah mendiktekan hadist-hadistnya pada Imam Ali untuk disalin kedalam shahifaf-nya. Tatkala Rosulullah meninggal dunia, Imam Ali memeliharanya dengan baik. Kemudian shahifah Rosulullah itu dikenal dengan nama Shuhufat Ali.

Bukan hanya shahifah, sebagai bahan sumber hukum mereka. Syiah juga berpandangan bahwa Rosulullah juga mendiktekan pada Imam Ali keterangan keterangan lain ke dalam lembaran-lembaranya yang ukurannya jauh lebir besar, dikenal dengan nama al-Jami’ah. Selain al-Jami’ah dan Sahifah Dzu’abah as-Shaif , kalangan Syi’ah juga mempercayai adanya;

  1. Shahifah a- Namus yang berisi nama para pengikut sekalian para musuh mereka hingga hari kiamat
  2. Shahifah al-Abahah yang berisi 60 kabilah Arab yang halal darahnya
  3. Al-Jafra al-Abyahd yang menurut Abu Abdillah berisi Zabur Dawud, Taurat Musa, Injil Isa, Shuhuf Ibrahim, halal dan haram, serta al-Jafr al- Ahmar yang berisi senjata yang hanya terbuka karena darah untuk berperang
  4. Mushaf Fathimah yang menurut mereka, tidak ada di dalamnya satu ayatpun dari Kitabullah.

Perlu diketahui, Ahlussunnah membantah semua klaim itu. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibrahim bin Yazid al-Taimi dari ayahnya, dia berkata, Ali pernah berpidato bahwa siapa saja yang berasumsi bahwa saya telah mempelajari kitab selain Al Qur’an dan shahifah ini (maksudnya Ali menunjukkan shahifah yang tergantung disarung pedangnya), maka itu tidak benar. Dan didalam shahifah itu terdapat gigi-gigi unta dan beberapa hal tentang pengobatan luka. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam cerita lain, terdapat pula hadis yang diriwayatkan oleh Abi Thufail Amir bin Watsilah, dia berkata, saya berada di dekat Ali, kemudian ada seorang laki-laki datang yang bertanya, “Apa rahasia Nabi kepadamu ?” lantas, apa yang terjadi, Sayyidina Ali pun marah mendengar pertanyaan yang disampaikan pemuda kepadanya, kemudian dia berkata “Nabi tidak pernah merahasiakan sesuatu kepadaku yang disembunyikan dari orang lain. Beliau hanya memberitahu aku empat kalimat”

“Apakah itu, wahai Amirul al-Mukminini ?” tanya laki –laki itu.

Ali menjawab, “Allah melaknat orang yang durhaka kepada orang tuanya, Allah melaknat orang yang menyembelih hewan dengan tanpa menyebut nama-Nya, Allah melaknat orang yang bercerita hal yang bukan-bukan dalam hadis. dan Allah melaknat orang yang mengubah hukum Allah.

Hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Qotadah, dari Abu Hasan disebutkan bahwa Ali pernah memperintahkan sesuatu dan perintah itupun dilaksakanan dengan baik. Ada yang berkata, “Kita sudah melaksakan semuanya.” Ada lagi yang berkata, “ Maha Benar Allah dan Rosul-Nya. “ Al-Asytar bertanya kepada Ali, “ Semua yang engkau katakan itu sudah menjadi rahasia umum. Umumkanlah wasiat Rosul kepadamu.”

Ali menjawab, “Rosul tidak pernah menjanjikan sesuatu yang khusus kepadaku kecuali yang kudengar dan tersimpan dalam shahifah yang terletak dibungkus pedangku.”

Orang-orang pun ingin tahu apa yang apa isi shohifah itu, ternyata di dalamnya terdapat penjelasan bahwasanya barang siapa yang bercerita yang bukan-bukan dalam hadist makan akan mendapatkan murka dari Allah (al-hadis)[2]. Hadist ini banyak yang meriwayatkan dengan redaksi yang berbeda beda.

Kesimpulan dari berbagai hadist di atas, menurut al-Hafidz Ibnu Hajar, adalah bahwa shahifah itu jumlahnya satu. Dan kalimat-kalimat yang disampaikan Ali, semuanya tertulis dalam shahifah itu. Lalu setiap perawi hanya menyampaikan apa yang ia hafal, wallahu a’lam.[3]

  1. Empat Kitab-kitab Syi’ah

Menurut Syiah, penulisan hadis-hadisnya sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad. Seperti halnya dalam keilmuan ahlussunah. Namun, perbedaanya terletak bahwa pendapat syi’ah adalah orang pertama yang melakukan adalah Nabi sendiri, yaitu melalui tangan Imam bin Abi Thalib.

Jika dalam Ahlussunnah dikenal dengan al- Kutub al Sittah sebagai kitab hadist induk, dan al-Bukhari sebagai kitab hadist terbaiknya, maka dalam Syi’ah terdapat al-Kutub al-Arba’ah sebagai acuan utama mereka, yakni al-Kafi, Man La Yahdhuruhul Faqih, Tahdzib al-Ahkam, dan al-Iktibshar. Keempat kitab ini merupakan rujukan utama Syi’ah. Berikut penjelasanya;

  1. Al-Kafi

           Al-Kafi disusun oleh al Kulaini dan merupakan kitab yang pertama disusun dari keempat kitab yang ada. Kitab ini memuat tentang hadist hadist mengenai fiqih, tauhid, sejarah para ma’shumin (orang-orang yang ma’shum menurut Syi’ah), serta empat belas orang-orang yang suci, yakni Nabi Muhammad, Sayyidah Fatimah az Zahra, dan dua belas Imam mereka.

  1. Man La Yahdhuruhul Faqih

Merunut Syi’ah karya ini dikenal dengan karya hadist ahkam, karena didalamnya terdapat 5.963 hadist, dengan 2050 hadist mursal, hadist yang perawinya terputus dan sisanya adalah hadist-hadist musnad, bersambung perawinya. Karya ini disusun Abu Ja’far Muhammad Ibnu Ali Ibnu Husain, yang lebih dikenal dengan julukan Syaikh ash –Shaduq, atau maha guru yang adil.

  1. dan, d. Tahdzib al-Ahkam dan al-Istibshar

Kedua kita ini disusun oleh Abu Ja’far Muhammad Ibnu Hasan al-Thusi (385-469 H). Tokoh ini dianggap orang yang paling utama dalam mazhab ahlul bait pada zamanya.Bagi umat Syi’ah, keduanya merupakan karya besar ilmu hadist dan sejajar dengan kitab Man La Yahdhuruhul Faqih. Keduanya juga lebih bercorak dengan hadist-hadist ahkam. Masing masing diantara keduanya terdapat 13. 590 hadis dan 5.511 hadis.[4]

 

  1. Akidah Syi’ah Tentang Nama dan Sifat Allah

Di antara akidah Syi’ah tentang nama dan sifat Allah adalah :

  1. Syi’ah menafikan (meniadakan) sifat nuzul (turun-Nya Allah) bagi Allah ke langit dunia dan menghukumi kafir bagi yang menetapkan hal tersebut. (Ushuulul Kaafi 1/103).
  2. Syi’ah menyifati imam-imam mereka dengan sifat-sifat Allah  dan menamai mereka dengan nama-nama Allah Ta’ala. (Lihat Kitab Ushuulul Kaafi 1/103)

 

  1. Akidah Syi’ah Tentang Tauhid

Di antara akidah Syi’ah berkenaan dengan tauhid adalah :

  1. Syi’ah meyakini bahwa planet-planet dan bintang-bintang mereka memiliki pengaruh bagi kebahagaiaan dan kesengsaraan serta nasib masuk surga dan neraka (Ar Raudhatu minal Kaafi 8/2103)
  2. Syi’ah meyakini bahwasanya syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah harus disertai dengan persaksian bahwa Ali adalah wali Allah. Merka senantiasa mengulang-ulangnya dalam adzan mereka dan setiap setelah selesai shalat dan ketika mentalkin orang yang sudah meninggal. (Kitab Furuu’il Kaafi 3/82)
  3. Syi’ah meyakini bahwa Allah  mengutus Jibril untuk membawa wahyu kepada Ali, namun Jibril keliru memberikan wahyu kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam (Kitab Al Maniyatu wal Amal fii Syarhil Milal Wan Nahl 30)

 

  1. Akidah Syi’ah Tentang Al Qur’an                      Di antara akidah Syi’ah tentang Al Qur’an adalah :
  2. Syi’ah meyakini bahwa Al Qur’an yang sekarang ada bukanlah Al Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad shalllahu ‘alaihi wa sallam, bahkan sudah diganti, diberi tambahan, dan dikurangi. Muhaddits Syi’ah meyakini bahwa sudah ada perubahan dalam Al Qur’an sebagaimana disebutkan oleh An Nauri At Tabrasi dalam kitab Faslul Khitab fii Tahrifi Kitabi Rabbil Arbaab.
  3. Syi’ah meyakini bahwa Al Qur’anul Karim ada yang kurang dan Al

Qur’an yang sesungguhnya naik ke langit ketika para sahabat  murtad. (Kitab At Tanbih war Radd  25)

 

  1. Akidah Syi’ah Tentang Ali dan Ahlul Bait

Di antara akidah Syi’ah tentang Ali dan Ahlul Bait adalah :

  1. Menurut Syi’ah bahwa yang pertama kali akan ditanyalan pada mayit di kuburnya adalah tentang kecintaan terhadap Ahlul Bait (Kitab Baharul Anwar 27/79).
  2. Syi’ah mengatakan bahwa Ali dapat menghidupkan mayit (Lihat Kitab Ushuulul Kaafi 1/90-91)
  3. Para ulama Syi’ah mengatakan bahwa debu dan lumpur di kubur Al Husain adalah obat untuk segala penyakit (Kitab Al Amaliy 318)

 

  1. Akidah Syiah Tentang Sahabat Nabi

Di antara akidah Syi’ah tentang sahabat Nabi adalah :

  1. Syi’ah meyakini bahwa barangsiapa yang melaknat Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, ‘Aisyah, Hafsah radhiyallahu ‘anhum setiap selesai shalat maka dia sungguh telah mendekatkan diri kepada Allah dengan pendekatan diri yang paling utama. (Kitab Furuu’il Kaafi 3/224)
  2. Syi’ah meyakini bahwa seluruh manusia murtad setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali empat orang : Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, Miqdad bin Aswad, dan ‘Ammar bin Yasir  (Al Anwar An Ni’maaniyah 1:81)
  3. Syi’ah meyakini bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menghabiskan banyak waktu hidupnya untuk menyembah berhala, dan iman beliau seperti imannya orang Yahudi dan Nasrani. Abu Bakar shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara berhala tergantung di lehernya dan Abu Bakar sujud kepadanya. (Lihat Baharul Anwar 25/172)
  4. Sesungguhnya Abu Bakar dan ‘Umar keduanya telah kafir.. dan orang yang mencintai keduanya maka dia juga kafir. (Haqqul Yaqin 522)
  5. Syi’ah mengatakan bahwa ‘Utsaman bin Affan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  termasuk orang yang secara lahir menampakkan Islam  namun menyembunyikan sifat munafik. (Kitab Al Anwar An Ni’maaniyah 1:81)
  6. Syi’ah meyakini bahwa barangsiapa berlepas diri dan meolak tiga khalifah -yakni Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman- dalam setiap malam, apabila dia mati di malam tersebut maka dia masuk surga (Lihat Kitab Ushuulul Kaafi)

 

  1. Akidah Syi’ah Tentang Istri-Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  2. Syi’ah meyakini bahwa ‘Aisyah binti Abu Bakar dan Hafsah binti ‘Umar kafir (Kitab Tafsir Al Qumi 597)
  3. Syi’ah meyakini bahwa salah satu pintu neraka adalah untuk ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha (Lihat Tafsir Al ‘Ayasyi 2/362)
  4. Syi’ah mengatakan bahwa ‘Aisyah adalah wanita pezina (Lihat Kitab ‘Ilalul Syaraa-i’ 2:565 dan Haqqul Yaqin 347)

 

  1. Akidah Taqiyyah

Menurut Syi’ah Taqiyyah adalah berkata atau berbuat yang tidak sesuai dengan apa yang diyakini, untuk menghindari mudharat yang mengancam jiwa dan hartamu atau untuk menjaga kehormatanmu.

Di antara akidah Syi’ah tentang taqiyyah adalah :

  1. Mereka mengatakan : “ Tidak ada iman bagi yang tidak melakukan taqiyyah” (Syarhu ‘Aqaaids Shudduuq 261)
  2. Menurut Syi’ah, barangsiapa yang meninggalkan taqiyyah seperti meninggalkan shalat dan meninggalkannya termasuk dosa besar.. Mereka bermualah bersama kita dan melaksanakan sunnah dengan taqiyyah. Bahkan mereka mengatakan : “ Barangsiapa yang meninggalkan taqiyyah maka dia kafir dari agama Allah. (Kitab Man Laa Yahdharahul Faqiih)
  3. Disebutkan dalam kitab Ushuulul Kaafi dari Abu ‘Abdillah, dia mengatakan : “Ber-taqiyyah-lah dalam agama kalian, dan berhujjahlah dengan taqiyyah, sesungguhnya tidak ada iman bagi yang tidak ber-taqiyyah

Yang disebutkan di atas hanyalah sebagian saja dari kesesatan akidah – akidah Syi’ah. Masih banyak akidah-akidah lainnya yang menyimpang dari ajaran Islam. Sebagai pelengkap saya tambahkan bentuk penyimpangan-penyinmpangan Syi’ah berikutnya, diantaranya:

  1. Secara garis besar ada empat hal yang menyebabkan kaum Syiah disebut aliran sesat, yaitu:
  • Tashbih (menyerupakan Imam dengan Tuhan) menisbatkan sifat Ilahiyah kepada imam mereka seperti pemilik dunia akhirat, rob bumi,
  • Ba’da, (keyakinan bahwa Allah mengetahui sesuatu setelah sebelumnya tidak mengetahui)
  • Tanusukh (reinkarnasi).
  • Raj’ah (kembali hidup sesudah mati sebelum hari kiamat atau kembalinya sang imam setelah wafatnya yang bukan sebenarnya)

 

Arroj’ah adalah salah satu diantara sekian banyak ajara Syi’ah Imamiyyah Itsna Asyariyyah (Ja’fariyah), yang jelas-jelas menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya. Ajaran Roj’ah ini menurut ulama-ulama Islam, telah membuat Syiah Imamiyah Itsna Asyariyyah (Ja’fariyah) masuk golongan Ghulaah. Ajaran tersebut sangat menyimpang dari ajaran Rasulullah Saw.

Arroj’ah adalah suatu keyakinan , orang-orang Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah (Ja’fariyah), bahwa suatu saat nanti, Imam mereka yang bernama Muhammad bin Husain al-Askari – yang dikenal sebagai Imam Syiah yang ke-12 dan sekarang menurut mereka masih sembunyi di dalam gua Sarro Man Roa, akan muncul kembali. Kemudian imam itu akan membangkitka Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah, Imam Hasan, Imam Husein dan imam-imam lain, serta orang-orang yang dekat kepada mereka.

Selanjutnya, semua orang-orang tersebut akan membaiatnya, yang diawali oleh Rasulullah dan disusul yang lain. Bersamaan dengan itu, menurut mereka, Abu Bakar, Umar dan Aisyah serta orang-orang yang dianggap zhalim oleh mereka, dibangkitkan dalam keadaan hidup untuk menerima siksaan-siksaan.

Sunni atau Ahlusunnah wal jamaah tidak membenarkan adanya ajaran Roj’ah dalam Islam. Bagi orang-orang yang berakal sehat, ajaran Syiah tersebut tidak dapat diterima.

.

  1. Aqidah Kema’suman Para Imam, yakni para imam mereka ma’sum (terjaga dari kesalahan dan dosa) serta mengetahui yang ghaib. Menurutnya, para imam lebih utama dari para nabi dan rasul, dan imam itu memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat dan para rasul.
  2. Aqidah Syiah tentang Al Qur’an (Al-Kafi I/239): “Mushaf Fatimah itu ada dan tebalnya tiga kali lipat Al Qur’an yang ada, dan di dalamnya tidak ada satu huruf pun yang sama dengan Al Qur’an.
  3. Aqidah Kota Najaf dan Tanah Karbala: Orang Syiah meyakini bahwa Najaf, Karbala dan Qum sebagai tanah haram, karena terdapat kuburan para imam mereka. Tanah Karbala, menurut orang Syiah, lebih utama daripada Ka’bah.
  4. Peringatan Hari Aasyuroo, atau hari yang bersejarah Imam Husein, selalu diperingati kaum Syiah dengan jalan menangis, memukul-mukul badannya, bahkan ada yang melukai dirinya sendiri sampai berlumuran darah, ada yang memukuli badannya sendiri dengan rantai, bahkan ada yang melukai dirinya dengan belati atau pedang.

 

Ulama-ulama Sunni menilai acara kaum Syiah tersebut, merupakan suatu perbuatan bid’ah (dholalah), karena sangat menyimpang dari ajaran Rasulullah Saw. Bukankah Rasulullah bersabda: “Bukan dari golonganku, orang-orang yang suka memukuli wajahnya dan merobek kantongnya (pakaiannya) serta menyerukan kepada perbuatan jahiliyah.”                                                                      Perlu diketahui, bahwa orang-orang Syiah dalam memperingati hari Aasyuuro, mereka hanya mengambil satu peristiwa saja, yakni dimana pada hari itu, Sayyidina Husein menjadi syahid di Karbala (Irak). Atas kematian Husein kaum syiah menangis dan memukul-mukul badannya sebagai bentuk usaha menebus dosa orang-orang Syiah terdahulu.                                                                Dalam kitab Attasyasyyu Baina Mafumil Aimmah wa mafhumil Farisi, disebutkan: Bahwa orang-orang Syiah juga berpuasa pada hari Aasyuuro, tetapi hanya sampai waktu Ashar saja. Berpuasa semacam ini jelas merupakan suatu perbuatan bid’ah karena tidak pernah dilakukan dan diajarkan oleh Rasulullah Saw.                                                                                                               Seorang ahli sejarah (tokoh Syiah) yang dikenal dengan sebutan Al-Ya’quubi, menerangkan dalam kitabnya sebagai berikut: Ketika Imam Ali Zainal Abidin memasuki kota Kufah, beliau melihat orang-orang Syiah (Syiah pengikut ayahnya, Ali bin Abi Thalib) menangis,kemudian Imam Ali Zainal Abidin berkata kepada mereka: “Kalianlah yang membunuhnya, tetapi kalian pula yang menangisinya..”.                                                                                                  Anehnya, orang Syiah selalu membawa cerita-cerita Karbala dengan mengkambinghitamkan orang lain, padahal mereka lah penyebab terbunuhnya Imam Husein di Karbala[5].

  1. Perbedaan Antara Syi’ah dengan Ahlussunnah Berikut kami tabel perbedaan diantara keduanya:
  2. Rukun Islam
Ahlusunnah Syi’ah
1. Syahadatain

2. Shalat

3. Puasa

4. Zakat

5. Haji

1. Shalat

2. Shaum

3. Zakat

4. Haji

5. Wilayah

 

 

 

 

 

  1. Rukun Iman
Ahlusunnah Syi’ah
Iman kepada :

1. Allah

2. Para Malaikat

3. Kitab Allah

4. Rasul Allah

5. Hari Akhir

6. Qadha Dan Qadar

 

1. Tauhid

2. Nubuwah

3. Imamah

4. Al-‘Adl

5. Al-Ma’ad

 

  1. Syahadat
Ahlusunnah Syi’ah
Dua kalimat syahadat 3 Kalimat syahadat (ditambah dengan menyebut 12 imam).

 

  1. Iman
Ahlusunnah Syi’ah
Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun imam. Percaya kepada 12 imam termasuk rukun imam.

 

  1. Khilafah
Ahlusunnah Syi’ah
Khulafa Rasyidin yang diakui (sah) adalah :

a)      Abu bakar

b)      Umar

c)      Utsman

d)     Ali

Ketiga khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. karena telah dianggap merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

 

  1. Ishmah
Ahlusunnah Syi’ah
Khalifah (imam) tidak ma’shum, artinya mereka dapat berbuat salah atau dosa atau lupa. Para imam yang jumlahnya 12 tersebut mempunyai sifat ma’sum seperti para Nabi.

 

 

  1. Sahabat
Ahlusunnah Syi’ah
Dilarang mencaci maki para sahabat. Mencaci maki para sahabat tidak apa-apa bahlan syiah berkeyakinan para sahabat setelah rasulullah saw wafat mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. alasanya karena para sahabat memba’iat abu bakar sebagai khalifah.

 

  1. Istri Rasul
Ahlusunnah Syi’ah
1. Sayyidah Aisyah istri rasul sangat

dicintai dan dihormati.

2. Para istri rasul termasuk ahli bait.

1. Sayyidah aisyah dicaci maki.

2. Para istri rasul bukan ahlu bait.

 

  1. Hadist
Ahlusunnah Syi’ah
Al-khutub as-sittah:

1. Sahih Bukhari

2. Sahih Muslim

3. Sunan Abu Dawud

4. Sunan Turmuzi

5. Sunan Ibnu Majah

6. Sunan an-Nasa’i

Al-khutub al-arba’ah:

1. Al Kahfi

2. Al Istibsar

3. Man la-Yahduruhu al-Faqih

4. At-Tahdzib

 

  1. Surga dan Neraka
Ahlusunnah Syi’ah
1.  Surga diperuntukkan bagi orang yang   taat kepada Allah dan Rasul.

2. neraka diperuntukkan bagi orang yang tidak taat kepada Allah & Rasul.

1. Surga diperuntukkan bagi orang yg cinta kepada imam ali.

2. Neraka diperuntukkan bagi orang yang memusuhi Ali.

 

 

 

 

  1. Raj’ah
Ahlusunnah Syi’ah
Tidak meyakininya. Raj’ah adalah keayakinan bahwa kelak diakhir zaman sebelum kiamat manusia akan hidup kembali, dimasa saat itu ahlu bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya. Meyakini aqidah raj’ah.

 

  1. Imam Mahdi
Ahlusunnah Syi’ah
Imam Mahdi adalah sosok yg akan membawa keadilandan kedamaian. –          Imam Mahdi akan keluar dari persembunianya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Fatimah, serta Ahlu Bait lain.

–          Selanjutnya ia akan membangunkan Abu Bakar, Ustman, Aisyah. Ketiga orang tersebut akan disiksa, sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada ahlu bait. (orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlusunnah yang akan membawa keadilan dan kedamaian )

 

  1. Mut’ah
Ahlusunnah Syi’ah
Haram Halal dan dianjurkan

 

  1. Khamr
Ahlusunnah Syi’ah
Tidak suci atau najis Najis

 

  1. Air
Ahlusunnah Syi’ah
Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) tidak suci. Air yg telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.
  1. Shalat
Ahlusunnah Syi’ah
1.Meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah.

2.Mengucapkan amin hukumnya sunnah.

3.Shalat Jama’ diperbolehkan bagi orang yg berpergian dan bagi orang orang yg mempunyai udzur syar’i.

4. Shalat dhuha disunnahkan

1.Meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya membatalkan shalat.

2.Mengucapkan amin diakhir al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah atau batal shalatnya.

3. Shalat Jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.

4. Shalat duha tidak dibenarkan.

 

  1. Al-Qur’an
Ahlusunnah Syi’ah
Tetap Orisinil Tidak orisinil dan sudah diubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).

 

  1. Riwayat & Hadits Palsu

Sejak dahulu, orang-orang Syiah sudah terkenal dalam membuat hadits-hadits palsu, bahkan mereka mempunyai keahlian dalam membuat riwayat-riwayat palu. Mereka tidak segan-segan mencatut nama-nama Ahlul Bait, demi kepentingan golongannya. Mereka juga terbiasa menghalalkan segala cara demi kepentingannya.

Begitu juga dalam memperingati hari Aasyuuro. Ulama Syiah dalam usahanya menguatkan cara memperingati hari tersebut, mereka telah membuat riwayat-riwayat palsu, dengan mengatasnamakan Ahlul Bait. Diantaranya sebagai berikut:

  1. Barangsiapa menangis atau menangis-tangiskan dirinya atas kematian Husein, maka Allah akan mengampuni segala dosanya, baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilakukan.
  2. Barangsiapa menangis atau menangis-tangiskan dirinya atas kematian Husein, wajiblah (pastilah) dirinya memperoleh surga. Demikian jaminan dari ulama Syiah, cukup menangis atas kematian Sayyidina Husein ra sudah bisa masuk surga. Bukan itu ajaran Rasulullah Saw !!

Disamping itu, masih banyak lagi riwayat-riwayat palsu yang mereka buat, tidak kurang dari 458 riwayat, mengenai ziarah ke makam Imam-imam Syiah, bahkan dari jumlah tersebut, 338 khusus mengenai kebesaran dan keutamaan serta pahala besar bagi peziarah ke makan Imam Husein ra atau ziarah ke Karbala. Sebagai contoh:

  1. Barangsiapa haji sebanyak 20 kali, maka ganjarannya sama dengan ziarah ke kuburan Husein sekali.
  2. Barangsiapa ziarah ke makam Imam Husein di Karbala pada hari Arofah, maka ganjarannya sama dengan haji 1.000 kali bersama Imam Mahdi, disamping mendapatkan ganjarannya memerdekakan 1.000 budak  dan ganjarannya bershadaqah 1.000 ekor kuda.
  3. Barangsiapa ziarah ke makam Imam Husein pada Nifsu Sya’ban, maka sama dengan ziarah Allah di Arasy-Nya.
  4. Barangsiapa ziarah ke makam Husein di Karbala pada hari Aasyuuro, maka ia akan mendapatkan ganjaran dari Allah, seperti orang haji 2.000 kali dan seperti orang yang berperang bersama Rasulullah 2.000 kali.
  5. Andaikan saya katakana mengenai ganjaran ziarah ke makam Imam Husein, niscaya kalian tinggalkan haji dan tidak ada seorang pun yang perhi haji.

Itulah diantara hadits-hadits palsu yang bersumber dari kitab Syiah: Wasaailussyiah oleh Al-Khuurul Amily (Ulama Syiah). Seperti itulah kedustaan orang Syiah.

Mengenai Nikah Mut’ah, kaum Syiah menjadikan dasar ajaran Syiah, siapa mengingkarinya kafir. Mereka menganggap, menika mut’ah sekali akan menjadi ahli surga. Orang yang meninggal dan belum pernah menikah mut’ah , akan datang di hari kiamat dalam kondisi bunting. Derajat orang yang menikah mut’ah sekali seperti Husain, dua kali seperti Hasan, tiga kali seperti Ali, dan tiga kali seperti Rasulullah Saw.                                                                                                                                              Penilaian Syiah terhadap selain kelompoknya (khususnya Sunni): Orang bukan Syiah adalah buta mata dan hati, terlaknat, sesat dan menyesatkan, murtad, kafir. Syiah memandang halal harta dan darah Sunni (Ahlu Sunnah), lebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani. Wanita Syiah tidak boleh dinikahkan dengan laki-laki Sunni, karena ia kafir.

  1. Penyebaran dan Situs-situs Syi’ah

Berkenaan dengan media, kaum Syiah juga begitu memanfaatkan media online untuk menyebarkan ajaran sesat mereka. Begitu banyak situs sesat yang membela ajaran Syiah dan mempropagandakan dogma-dogma Syiah. Situs-situs ini pun berusaha menipu umat Islam dengan taqiyah mereka yang seakan menyampaikan ajaran Islam secara benar.

Berikut ini adalah daftar sebagian website utama propaganda Syiah di Indonesia yang sangat berbahaya dan harus diwaspadai:

 

  1. ABNA abna.ir/Indonesian
  2. Ahlul Bait Indonesia (ABI) ahlulbaitindonesia.org
  3. IJABI ijabi.or.id
  4. Al Hassanain alhassanain.com/indonesian/index.php
  5. Al Munawwarah almunawwarah.com
  6. Al-Quran versi Syiah quran.al-shia.org/id/
  7. Al-Shia al-shia.org/
  8. Balaghah balaghah.net
  9. ICC Jakarta icc-jakarta.com
  10. Inilah Salafi Takfiri inilah-salafi-takfiri.com
  11. IPABI Online ipabionline.com,
  12. Islam Quest islamquest.net/id/
  13. Liputan Islam liputanislam.com
  14. LPPI Makassar NET lppimakassar.net
  15. Majulah IJABI majulah-ijabi.org
  16. Muslim Media News muslimedianews.com
  17. Satu Islam satuislam.org
  18. Sinar Agama sinaragama.org
  19. Syi’ah ORG syiah.org (Forum)
  20. TV Shia tvshia.com/Indonesia
  21. YAPI Bangil yapibangil.org (Pesantren Syi’ah)
  22. Indonesian Irib indonesian.irib.ir
  23. Islam Times islamtimes.org/ms
  24. net/id
  25. media-islam.or.id
  26. net
  27. ahl-ul-bait.org
  28. com
  29. al-islam.org
  30. org
  31. ir/id
  32. com
  33. net
  34. dan lain-lain

           Blog

  1. wordpress.com
  2. wordpress.com
  3. wordpress.com
  4. blogspot.com
  5. wordpress.com
  6. dialogsunni-syiah.blogspot.com
  7. wordpress.com
  8. wordpress.com
  9. wordpress.com
  10. wordpress.com
  11. wordpress.com
  12. wordpress.com
  13. wordpress.com
  14. wordpress.com
  15. wordpress.com
  16. wordpress.com
  17. blogspot.com
  18. wordpress.com
  19. wordpress.com
  20. blogspot.com
  21. wordpress.com
  22. wordpress.com
  23. wordpress.com
  24. wordpress.com
  25. wordpress.com
  26. wordpress.com
  27. wordpress.com
  28. wordpress.com
  29. blogspot.com
  30. wordpress.com
  31. wordpress.com
  32. wordpress.com
  33. blogspot.com
  34. wordpress.com
  35. wordpress.com
  36. wordpress.com
  37. wordpress.com
  38. wordpress.com
  39. blogspot.com
  40. wordpress.com
  41. wordpress.com
  42. wordpress.com
  43. wordpress.com
  44. wordpress.com
  45. blogspot.com
  46. wordpress.com
  47. wordpress.com
  48. dan lain-lain

 

Fanpage Facebook Syiah:

  1. Islam TimesInd: https://www.facebook.com/islam.timesid
  2. Liputan Islam: https://www.facebook.com/liputanislamcom
  3. Berita Harian Suriah: https://www.facebook.com/OfficialBHS
  4. IRIB Indonesia: https://www.facebook.com/groups/iribindonesian
  5. Kantor Berita Abna: https://www.facebook.com/kantorberita.abna
  6. Indonesian Support for Syria Al-Assad                 : https://www.facebook.com/IndonesiaSyria
  7. Syrian Arab Army: https://www.facebook.com/syrianmilitary
  8. Syrian Meme ID: https://www.facebook.com/SyrianMeme.id
  9. Harian Militer dan Konflik Bersenjata: https://www.facebook.com/kandangmenjangan
  10. Syria News Indonesia: https://www.facebook.com/SyriaNewsIndonesia
  11. com/sinar.agama
  12. com/pages/Sinar-Agama/207119789401486
  13. com/groups/catatan.sinar.agama
  14. https://www.facebook.com/emiliar.az
  15. dan lain-lain.

Grup Facebook Syiah:

  1. Buku Buku AHLUL BAIT https://www.facebook.com/pages/Buku-Buku-AHLUL-BAIT/505452582825688?ref=hl
  2. SYIAH TETAP ISLAM https://www.facebook.com/pages/SYIAH-TETAP- ISLAM/100212750164987?ref=hl
  3. AHLUL BAIT TEGAL https://www.facebook.com/pages/AHLUL-BAIT-TEGAL/189004261294203?ref=hl
  4. Kumpulan Video Ahlul Bait Indonesia https://www.facebook.com/pages/Kumpulan-Video-Ahlul-Bait-Indonesia/263187090500485?ref=stream
  5. SATU Identik NYATA https://www.facebook.com/pages/SATU-Identik-NYATA/162506053904859?ref=stream
  6. Koleksi FOTO AHLUL BAIT https://www.facebook.com/pages/Koleksi-FOTO-AHLUL-BAIT/156081737883247?ref=stream
  7. Do’a Do’a AHLUL BAIT https://www.facebook.com/pages/Doa-Doa-AHLUL-BAIT/362968357144988?ref=stream
  8. Hadis Dan Ayat Pada Ahlul Bait https://www.facebook.com/pages/Hadis-Dan-Ayat-Pada-Ahlul-Bait/336432413135267?ref=stream
  9. Bukhori supriyadi yadi Buletin (saluran Kebersamaan) https://www.facebook.com/pages/bukhori-supriyadi-yadi-Buletin/205625109467913?ref=stream
  10. https://www.facebook.com/pages/AHLUL-BAIT-NABI/793949737285446?ref=hl
  11. https://www.facebook.com/pages/AHLUL-BAIT-NABI-SAW/193210487368118?ref=stream
  12. AHLUL BAIT NABI SAW https://www.facebook.com/groups/ahlulbaitnabisaw/
  13. SYIAH TETAP ISLAM https://www.facebook.com/groups/516510781767631/
  14. dan lain-lain[6]

Lebih lengkapnya kami sertakan data lembaga dan media sebagai sarana   penyebaran Syi’ah[7]. Berikut adalah

 

Tabel Lembaga Syi’ah di Jabodetabek
1. Ikatan Pemuda Ahlu Bait Indonesia (IPABI), Bogor
2. Islamic Cultural Center (ICC), Jakarta
3. Majlis Ta’lim (MT) Ummu Abiha, pimp. Hj. Andriyanti
4. MPII, Condet, Jakarta
5. Majlis Ta’lim (MT) Al-Bathul
6. Majlis Ta’lim (MT) Haurah
7. Majlis Ta’lim (MT) An-Nur, Tanggerang
8. Shaff Muslimin Indonesia, Cawang, Jakarta
9. Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Madina Ilmu, Bogor
10. Yayasan Al-Ishlah, Jakarta
11. Yayasan Al-Mahdi
12. Yayasan Al-Muntazhar, Kompleks Taman Kota, Jakarta
13. Yayasan As-Shodiq
14. Yayasan Az-Zahra, Jakarta
15. Yayasan Babul Ilmi
16. Yayasan Intan
17. Yayasan Madinatul Ilmi, Sawangan Depok
18. Yayasan Fatimah, Jakarta
 
Tabel Lembaga Syi’ah di Jawa Tengah dan Di Yoqyakarta
1. Forum Wasiat, Tegal
2. Ponpes Al Hadi, Pekalongan
3. Yayasan Al Amin, Semarang
4. Yayasan Al Amin, Yoqyakarta
5. Yayasan Nurul Tsaqolain, Semarang Utara
6. Yayasan Al Khairat, Demak
7. Yayasan Al Mawadah, Kendal

 

8. Yayasan Al Muhibbin, Probolinggo
9. Yayasan Al Mujtaba, Wonosobo
10. Yayasan Al Musthafa, Pekalongan
11. Yayasan Al Mahda, Solo
12. Yayasan Dar Takrib, Jepara
13. Yayasan Safinatunnajah Wonosobo
14. Yayasan Rausyan Fikr, Yoqyakarta
 
Tabel Lembaga dan Organisasi Syi’ah di Jawa Timur
1. Majlis Talim (MT) Al Alawi, Probolinggo
2. Yayasan Al Baqir, Jawa Timur
3. Yayasan Al Hasim, Surabaya
4. Yayasan Al Hujah, Jember
5. Yayasan Al Iffah, Jember
6. Yayasan Al Itrah, Bangil
7. Yayasan Al Itrah, Jember
8. Yayasan Al Kausar, Jawa Timur
9. Yayasan Al Mahdi, Jember
10. Yayasan Al Muhibbin, Probolinggo.
11. Yayasan Al Qosim, Surabaya
12. Yayasan Al Yaasin, Surabaya
13. Yayasan At Taqi, Pasuruan
14. Yayasan Az Zahra, Malang
15. Yayasan Ja’far Shodiq, Bondowoso
16. Ponpes YAPI Bangil
17. Yapisma Malang
 
Tabel Lembaga dan Organisasi Syi’ah di Jawa Barat
1. Majlis Ta’lim Al Idrus, Purwakarta
2. Majlis Ta’lim Al Jawad, Tasikmalaya
3. Yayasan 10 Muharom (YSM), Desa Margamukti, Pengalengan Kab. Bandung
4. Yayasan AL Baro’ah, Tasikmalaya
5. Yayasan Al Jawwad, Geger Kalong Girang, no 92 Bandung
6. Yayasan Al Kadzim, Cirebon
7. Yayasan As Shodiq, Bandung
8. Yayasan As Salam, Majalengka
9. Yayasan Al Mujtaba, Purwakarta
10. Yayasan Al Mukarramah, Bandung
11. Yayasan Muthohhari, Bandung
12. Yayasan Saifik, Bandung
 
Lembaga dan Organisasi Syi’ah di Luar Pulau Jawa
1. Yayasan Kumail, Palembang, Sumsel
2. Madrasah Nurul Imam, Selat Sagawin, Irian
3. Majlis Ta’lim Ali Ridho Alatas, Kaltim
4. Mjlis Ta’lim As Shodiq, Banjarmasin, Kalsel
5. Yasasan Al Bayan, Palembang, Sumsel
6. Yayasan Al Hayimi, Lombak NTB
7. Yayasan Al Ishlah, Makasar, Sulsel
8. Yayasan Al Hakim, Lampung
9. Yayasan Al Kisa’, Bali
10. Yayasan Al Muntazar, Kalsel
11. Yayasan Al Qurba, Mataram NTB, Pimpinan Hasyim Umar
12. Yayasan Amali, Medan, Sumut
13. Yayasan Ar Ridho, Kalsel
14. Yasan Fikratul Himmah, Makasar, Sulses
15. Yayasan Sibtain, Riau
16. Yayasan Paradigma, Makasar, Sulsel
17. Yayasan Pinisi, Makasar, Sulsel
18. Yayasan ELIIJ, Makasar, Sulsel
19. Yayasan Lentera, Makasar, Sulsel
20. Yayasan Nur Tsaqolain, Makasar Sulsel
21. Yayasan Pintu Ilmu, Palembang Sumsel
22. Yayasan Shadra
23. Yayasan Ulul Albab, Aceh
 
Radio / TV Syi’ah di Indonesia
1. IRIB (Radio Iran Siaran Bahasa Indonesia)
2. Hadi TV, tv parabola dengan pilihan bahasa Indonesia (www.haditv.com)
3. TV Al Manar (berbahasa Arab), Hizbullah-Lebanon, diakses sejak April 2008, bekerja sama dengan INDOSAT
4. Myshiatv.com
5. Shiatv.net
 
Lembaga Penerbitan Syi’ah di Indonesia
1. Bulletin Al Jawad, Bandung
2. Buletin Al Ghadir
3. Buletin Al Tanwir
4. Jurnal Al Huda
5. Majalah Al Hikmah
6. Majalah Al Huda, diterbitkan oleh ICC Jakarta
7. Majalah Al Mawaddah
8. Majalah Al Musthafa
9. Majalah Yaum Al Quds
10. Penerbit  Al Baqir
11. Penerbit  Al Bayan
12. Penerbit Al Hadi
13. Penerbit Al Jawad
14. Penerbit Al Muntazar
15. Penerbit As Sajjad
16. Penerbit Al Tsaqolain
17. Penenrbit Citra
18. Penerbit CV Firdaus
19. Penerbit Duta Ilmu
20. Penerbit Gua Hira
21. Penerbit ICC Al Huda
22. Penerbit Mahdi
23. Penerbit Mizan
24. Penerbit Majlis Ta’lim Amben
25. Penerbit Mulla Shada
26. Penerbit Pintu Ilmu
27. Penerbit Pustaka Hidayah
28. Penerbit Qonaah
29. Penerbit Risalah Masa
30. Penerbit Ulsa Press
31. Penerbit Yapi Jakarta
32. Penerbit Yayasan Safinatunnajah

 

  1. Perkembangan, dan Konflik Syi’ah di Indonesia

Ditinjau dari perjalanan sejarah, komunitas Syiah di Indonesia dapat dikategorikan dalam tiga generasi utama, yaitu :

  1. Generasi Pertama Sebelum meletus Revolusi Iran tahun 1979, Syiah sudah ada di Indonesia baik Imamiah, Zaidiyah, maupun Ismai’liyah. Mereka menyimpan keyakinan  itu hanya untuk diri mereka sendiri dan untuk keluarga yang sangat terbatas. Karena itu mereka bersikap sangat eksklusif; tidak atau belum punya semangat misionaris untuk menyebarkan ajarannya kepada orang lain.

 

  1. Generasi Kedua           Generasi kedua di dominasi oleh kalangan intelektual kebanyakan berasal dari perguruan tinggi, tertarik kepada Syiah sebagai alternatif pemikiran Islam. Mereka lebih tertarik kepada pemikiran Syiah dari pada ritus-ritus atau fiqihnya. Dari segi struktur sosial, generasi ini berasal dari kelompok menengah keatas, kebanyakan mahasiswa dan akademis perguruan tinggi. Dari sego mobilitas, banyak diantara mereka yang punya akses hubungan islam internasional. Dari segi idiologis, cenderung radikal, lebih mirip dengan- atau padanan dari – kelompok neo- Marxian.

 

  1. Generasi ketiga           Kelompok ini mulai mempelajari fiqih Syiah, terutama oleh lulusan Qom di Iran. Bukan lagi sekedar pemikiran, mereka cenderung berkonflik dengan kelompok lain; bersemangat misionaris yang tinggi dalam menyebarakan ajaran; dimensi intelektual sangat rendah karena lebih sibuk pada fiqih; menganggap Syiah gelombang kedua(pemikiran) itu sebagai bukan Syiah yang sebenarnya; cenderung memposisikan diri sebagai representasi original tentang paham Syiah dan atau sebagai pemimpin Syiah di Indonesia.

 

Kemudian, mencermati konflik dan potensi konflik Syi’ah dan Sunni di Indonesia dapat dilakukan dengan   mencoba memahami momentum sporadis relasi keduanya, baik terkait ajaran transendental (ruhiyyah), maupun muamalah kedua kelompok ini. Berikut ini catatan tentang momentum konflik secara kronologis:

 

  1. Pembakaran Ponpes Al-Hadi, Desa Brokoh Wonotunggal, Kab. Batang Jawa Tengah 14 April 2000. Insiden ini mengakibatkan 3 rumah hancur, 1 mobil dirusak, dan 1 gudang  material bangunan dibakar massa. Kepala Humas Pemada Batang, Agung Prasetyo, mengatakan sebenarnya keberadaan Ponpes AL-Hadi itu sudah dilarang oleh Kajari Batang dengan surat tertanggal 3 April 2000. Larangan itu berdasarkan permintaan masyarakat yang tidak menghendaki adanya aliran Syi’ah.’’Namun,tanpa ada koordinasi dengan Pemda Batang dan aparat terkait lainnya, pihak ponpes AL-Hadi mendirikan cabang ponpes dan melakukan kegiatannya di tempat itu,’’ katanya.

 

  1. Demo anti Syi’ah di Jawa Timur. Yaitu pada 24 Desember 2006 sehingga menghancurkan 3 rumah musholla, dan 1 mobil milik ketua IJABI setempat. Sebelumnya, pada pertengahan November 2006, di Bondowoso terjadi kerusuhan sosial yang  melibatkan  komunitas Syi’ah. Konflik berawal ketika Kyai AM (Sunni) melakukan ijtima’ pada majelis zikir rutin masyarakat Kec. Jambesari Bondowoso. Bersamaan dengan itu, kelompok Syi’ah yang dimotori IJABI cabang Bondowoso dipimpin oleh Bakir Muhammad AL-Absyi menggelar ritual doa kumail, yang rutin dilakukan setiap malam Juma’at di pon-pes binaan Kyai Musawir.

 

 

  1. Pada 9 April 2007, Syi’ah di desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang Madura ketika akan menggelar peringatan maulid Nabi Muhamamad ditentang oleh kelompok aswaja yang berusaha membubarkan acara tersebut. Massa aswaja adalah penduduk lokal plus daerah lain yaitu Batu Biru(pimpinan Ust. AA), Sumenep, Waru, dan Pasean.

 

  1. Pada 20 April 2007, beberapa organisasi massa islam (Persis, Muhammadiyah, NU) dan pesantren yang berada di bawah naungannya dan menamakan diri HAMMAS berjumlah sekitar 2000 orang, dipimpin oleh Habib Umar Assegaf berencan akan mendatangi pesantren YAPI bangil Jawa Timur. Karena YAPI diduga kuat sebagai agen pengkaderan Syiah.

 

 

  1. Pada 13 Januari 2008, sekitar pukul 20.00 WIT, kurang lebih 200 orang melakukan pembubaran kegiatan kelompok Syiah di Yayasan Al Qurba yang di motori oleh Hasyim Umar di Dusun Kebun Roek, Kec. Ampenan, Lombok Barat, NTB dalam rangka memperingati hari Asyura.

 

  1. Pada 29 Desember 2011, kelompok Sunni di Sampang hilang kesabaran dan membakar beberapa fasilitas rumah dan mushola pimpinan Syiah Tajul Muluk di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang Madura. Dalam pandangan kaum Sunni Sampang, Tajul Muluk ingkar janji untuk tidak menyebarkan ajaran Syiah di Karang Gayam Omben sejak tahun 2006 lalu. Dalam konflik itu tidak ada korban jiwa. Warga Syiah diungsikan di gedung olahraga Sampang.

 

 

  1. Pada 26 Agustus 2012, konfik horizontal Sunni-Syiah pecah belah lagi di Omben Sampang dan menyebabkan seorang meninggal dunia yang dipicu oleh penghadangan anak-anak pengungsi Syiah di Sampang yang hendak kembali ke pesantren YAPI Bangil yang menjadi pusat pendidikan dan pengkaderan Syiah di Jawa Timur.

 

Konflik yang terjadi meski tidak semuanya mengemuka dan berskala Nasional, perlu didalami penyebab utama konflik. Pemahaman tentang penyebab utama konflik dapat membantu membaca sejauh mana solusi yang harus diambil oleh berbagai pihak.

 

  1. Fatwa-Fatwa Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) Mengenai Syi’ah

Jika kita ibaratkan antara Syi’ah dan Sunni adalah sebagaimana minyak dan air, dimana keduanya tidak akan pernah bisa bersatu. Lantas mengapa Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) menyatakan sesat atas kemunculan aliran Syi’ah di Indonesia ?                                                                                                                    Berikut saya sertakan beberapa Fatwa MUI mengenai Syi’ah yang saya ambil dari buku Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesai disusun oleh Tim Penulis MUI Pusat, sebagai berikut:

  1. Keterangan tentang penyimpangan ajaran Syi’ah dari kemurnian ajaran Islam diperkuat oleh “Sepuluh Kriteria Aliran Sesat” yang telah ditetapkan dalam Rakernas MUI pada Selasa, 6 November 2017 di Sari Pan Pasifik, Jakarta sebagi berikut:
  2. Mengingkari salah satu rukun Iman dan Rukun Islam
  3. Menyakini atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’I (Al-Qur’an dan sunah
  4. Menyakini turunya wahyu sesudah Al Qur’an
  5. Mengingkari autentisitas dan kebenaran Al Qur’an
  6. Menafsirkan Al Qur’an yang tidak berdasar kaidah kaidah ajaran Islam
  7. Melecahkan/mendustakan Nabi dan Rosul
  8. Mengingkari Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rosul terakhir
  9. Mengurangi/menambah pokok pokok ibadah yang tidak ditetapkan syariah
  10. Mengkafirkan sesama muslim hanya karena bukan kelompoknya

 

Kesepuluh aliran sesat di atas telah di anut dan di amalkan oleh Syi’ah Imamiah, Itsna Asyariah, Madzab Alul Bait (versi mereka), menurut hasil Musyawarah BASSRA (Badan Silaturahmi Ulama’ Pesantren Madura) pada tanggal 3 januari 2012 di Gedung Islamic Center Pamekasan Madura.

 

  1. Dengan demikian faham Syi’ah yang “menolak hadist yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait, memandang Imam itu maksum (terbebas dari segala dosa), tidak mengakui ijma’ tanpa Imam, memandang bahwa menegakkan kepemimpinan (pemerintahan) adalah termasuk rukun agama, tidak mengakui kekhalifaan Abu Bakar, Umar, dan, Ustman, rodhiyallahu ‘anhum ajma’in.” (HF MUI, Faham Syi’ah: 46) adalah menyimpang dan harus diwaspadahi. “Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlusunnah wal Jamaa’ah seperti tersebut diatas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah (pemerintahan)”, Majlis Ulama’ Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlusunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya paham yang didasarkan atas ajara Syi’ah.” (Rekomendasi Komisi Fatwa MUI 7 Maret 1984. Lihat HF MUI 46-47

 

  1. Penegasan tentang kekesasatn Syi’ah difatwakan oleh MUI Jatim, no: Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012, tgl 21 Januari 2012 dengan jelas dan terang sebagaimana berikut:
  2. Mengukuhkan dan menetapkan sejumlah keputusan MUI daerah yang menyertakan bahwa ajaran Syi’ah (khususnya Imami’ah, Itsna Asyariah, madzab ahlu bait dan semisalnya ) serta ajaran ajaran yang mempunyai kesamaan dengan paham Syi’ah Imamiyah, Itsna Asyariah adalah SESAT DAN MENYESATKAN.
  3. Menyatakan bahwa pengunaan istilah Ahlul Bait untuk pengikut Syi’ah adlah bentuk pembajakan kepda Ahlul Bait Rosullullah
  4. Merekomendasikan:
  • Kepada umat Islam diminta untuk waspada agar tidak mudah terpengaruh dengan faham dan ajaran Syi’ah (khususnya Imamiyah, Itsna Asyariah atau yang mengunakan nama samaran Madzab Ahlu Bait dan semisalnya).
  • Kepada umat Islam diminta tidak mudah terprofokasi melakukan tindakan kekerasan (anarkisme), karena hal tersebut tidak dibenarkan dalam Islam serta bertolak belakang dengan upaya membina suasana kondusif untuk kelancaran dakwah Islam
  • Kepada pemerintah, baik Pusat maupun Daerah dimohon agar bertindak tegas dalam menangani aliran menyimpang karena hal ini bukan termasuk kebebasan beragama tapi pedoman agama
  • Kepada Dewan Pimpinan MUI Pusat, dimohon agar mengukuhkan fatwa tentang kesesatan Faham Syi’ah khususnya Imamiah Itsna Asyariah atau yang mengunakan nama samaran Madzab Ahlul Bait dan semisalnya, serta ajaran yang mempunyai kesamaan dengan Faham Syi’ah sebagai fatwa yang berlaku secara Nasional.” Ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Mejelis Ulama’ Indonesia (MUI) Propinsi Jawa Timur di Surabaya 27 Shafar 1433 H / 21 Januari 2012 M, dan ditandatangani oleh Ketua Umum KH. ABDUSSHOMAD BUCHORI dan Sekretaris Umum Drs. H. IMAM THOBRONI, MM”

 

Dan masih masih banyak fatwa-fatwa MUI tentang kesesatan Syi’ah yang telah terlampir dalam Buku Panduan Majelis Ulama’ Indonesia. Semoga Allah senantiasa memuntun kita dalam jalan yang lurus-Nya, jalan yang benar-benar diridho-Nya, dan menjadi manusia yang senantiasa tercurahkan Rahmat belas kasih-Nya untuk tersampai pada surga tertinggi-Nya agar kita bisa melihat-Nya, Allah Subhanahu Wata’ala. amiin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Syiah menurut etimologi bahasa arab bermakna pembela dan pengikut seseorang, selain itu juga bermakna setiap kaum yang berkumpul diatas suatu perkara. Sedangkan menurut terminologi syariat, syiah bermakna mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk menjadi khalifah kaum muslimin, begitu pula sepeninggal beliau.

Kemunculan Syi’ah terjadi setelah Ali dan Mu’awiyah berperang, yang disebabkan Mu’awiyah menuntut Ali untuk menuntaskan masalah terbunuhnya khalifah Ustman bin Affan, lantas Mu’awiyah memberikan tanda damai kemudian Ali menyetujuinya.

Secara garis besar, ajaran Syi’ah sangat berlawanan dengan Sunni (Ahlusunnah Wal Jama’ah) sehingga telah ditetapkan sebagai Aliran Sesat dalam Rakernas MUI pada Selasa, 6 November 2017 di Sari Pan Pasifik, Jakarta karena Syi’ah :

  1. Mengingkari salah satu rukun Iman dan Rukun Islam
  2. Menyakini atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al-Qur’an dan sunah
  3. Menyakini turunya wahyu sesudah Al Qur’an
  4. Mengingkari autentisitas dan kebenaran Al Qur’an
  5. Menafsirkan Al Qur’an yang tidak berdasar kaidah kaidah ajaran Islam
  6. Melecahkan/mendustakan Nabi dan Rosul
  7. Mengingkari Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rosul terakhir
  8. Mengurangi/menambah pokok pokok ibadah yang tidak ditetapkan syariah
  9. Mengkafirkan sesama muslim hanya karena bukan kelompoknya

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penulis MUI Pusat, “Mengenal & Mewaspadahi Penyimpangan Syi’ah di Indonesia”, Buku Panduan Majelis Ulama’

Tim Aswaja NU Centre PWNU Jawa Timur, 2012, “Risalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah” Dari Pembiasaan Menuju Pemahaman dan Pembelaan Akidah-Amaliah Nahdhotul Ulama’, Jawa Timur, Khalista

 

 

 

Catatan:

 

 

 

 

[1] Dari: Panduan MUI, Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia Lihat;Ensiklopedi Islam, Vol. 5, entry Syi’ah. Lihat juga Abu Zahrah, Tarihk al-Madzahib al-Islamiyah fi al-Siyasah wa al-‘Aqoid, Dar Fikr al’Arabi.

[2] Musnad Imam Ahmad, Vol. 1, hal. 119, Fath al-Bari, vol. 1 hal. 205, 4, hal. 85

[3] Ibrahim Al-Quraibi, Tarikh Khulafa, hal. 767-770, (diambil dari; Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Risalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

[4] Al-Mihal wa An Nihal, hal 147. (Dilihat dari Risalah Ahlussunah Wal Jama’ah. hal.44)

[5] Lihat; MUI Mengenal & Mewaspadahi Penyimpangan Syi’ah di Indonesia

[6] Dari berbagai macam sumber

[7] Diambil dari MUI Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia

MAKALAH FILSAFAT UMUM

DAFTAR ISI

 

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………. 1

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………. 2

  1. Latar Belakang……………………………………………………………………….. 2
  2. Rumuasan Masalah………………………………………………………………….. 3
  3. Tujuan Penulisan…………………………………………………………………….. 3

 

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………… 4

  1. Pengertian Filsafat…………………………………………………………………… 4
  2. Ciri-Ciri Pikiran Kefilsafatan……………………………………………………. 7
  3. Sejarah Filsafat……………………………………………………………………….. 8
  4. Filsafat Dalam Islam……………………………………………………………….. 13
  5. Pengaruh Filsafat Terhadap Dakwah/ Islam……………………………….. 16

 

BAB III PENUTUP………………………………………………………………………….. 20

  1. Kesimpulan ……………………………………………………………………………. 20

 

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………… 21

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Filsafat islam merupakan salah satu bidang studi islam yang keberadaannya telah menimbulkan pro dan kontra.  Sebagian mereka yang berpikiran maju dan bersifat liberal cendrung mau menerima pemikiran filsafat Islam[1][1]. Sedangkan bagi mereka yang bersifat tradisional yakni yang berpegang teguh pada doktrin ajaran Al-qur’an dan Al-hadits secara tekstual, cendrung kurang mau menerima filsafat, bahkan menolaknya. Dari kedua kelompok tersebut nampak kelompok terakhir masih cukup kuat pengaruhnya di masyarakat dibandingkan dengan kelompok pertama.  Kajian filsafat islam baru di lakukan sebagian mahasiswa pada jurusan tertentu di akhir abad ke-20 ini. Sedangkan pada masyarakat secara umum seperti yang terjadi di kalangan pesantren, pemikiran filsafat masih di anggap terlarang, karena dapat melemahkan iman. Kalau pun di pesantren di ajarkan logika, yang pada hakikatnya merupakan ilmu yang mengajarkan cara berpikir folosofis, namun hal ini tidak di terapkan, melainkan hanya semata-mata sebagai hafalan.[2][2]

Berbagai analisis tentang penyebab kurang di terimanya filsafat dikalangan masyarakat Islam Indonesia pada umumnya adalah karena pengaruh pemikiran Al-Ghazali yang di anggapnya sebagai pembunuh pemikiran filsafat. Anggapan ini selanjutnya telah pula dibantah oleh pendapat lain yang mengatakan penyebabnya bukanlah Al-Ghazali, melainkan sebab-sebab lain yang belum jelas.[3][3]

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Apakah pengertian filsafat ?
  3. Bagaimana ciri-ciri pikiran kefilsafatan ?
  4. Bagaimana sejarah filsafat ?
  5. Bagaiamana filsafat Islam ?
  6. Apa pengaruh filsafat terhadap dakwah ?

 

  1. Tujuan Penulisan
  2. Untuk mengetahui sejarah filsafat
  3. Untuk memahami filsafat islam
  4. Untuk mengetahui pengaruh filsafat terhadap dakwah

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Filsafat

Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : ”philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab.

Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari bahasa Yunani yaitu philosophia – philien : cinta dan sophia : kebijaksanaan. Jadi bisa dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Dan seorang filsuf adalah pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.

Johann Gotlich Fickte ( 1762-1814 ) : filsafat sebagai Wissenschaftslehre ( ilmu dari ilmu-ilmu ) yakni ilmu umum, yang jadi dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan. Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran dari seluruh kenyataan.

Paul Nartorp (1854 – 1924) : filsafat sebagai Grunwissenschat (ilmu dasar untuk menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukan dasar akhir yang sama).

Notonegoro: Filsafat menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah , yang disebut hakekat.

Driyakarya : filsafat sebagai perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebab, perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai habis.

Sidi Gazalba: Berfilsafat ialah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran , tentang segala sesuatu yang di masalahkan, dengan berfikir radikal, sistematik dan universal.

Prof. Mr.Mumahamd Yamin: Filsafat ialah pemusatan pikiran , sehingga manusia menemui kepribadiannya serta didalam kepribadiannya itu sungguh dialaminya.

Prof. Ismaun: Filsafat ialah usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya secara sungguh-sungguh , yakni secara kritis sistematis, fundamentalis.

Filsafat menurut para filusuf disebut sebagai induk ilmu. Karena dari filsafatlah ilmu-ilmu modern dan kontemporer berkembang. Karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak akan merasa puas jika hanya mengenal ilmu dari sudut pandang ilmu itu sendiri. Jika ingin mengetahui hakikat ilmu, maka akan dikaitkan dengan ilmu lainnya. Misalnya, ingin mengetahui kaitan ilmu dengan moral, ilmu dengan agamanya, dan ingin merasa yakin bahwa ilmu itu akan membawa kebahagiaan terhadap kehidupan dirinya.

Karakteristik berpikir filsafati yang kedua yakni sifat mendasar. Orang yang berpikir filsafati tidak percaya begitu saja bahwa ilmu yang disampaikan itu benar. Mereka akan berpikir bahwa ; mengapa ilmu itu dapat disebut benar? Bagaimana proses penilaian yang berdasarkan kriteria tersebut dilakukan? Apakah kriteria yang digunakan untuk menilai itu benar? Lalu benar itu apa? Dan setersusnya.

Karakteristik atau ciri berpikir filsafati yang ketiga adalah spekulatif. Artinya, hasil pemikiran yang didapat dijadikan dasar bagi pemikiran selanjutnya. Hasil pemikiran selalu dimaksudkan sebagai dasar untuk menjelajah wilyah pengetahuan yang baru (Surajiyo, 2005: 13).

Dalam pemikiran ini, mereka tidak yakin pada titik awal yang menjadi jangkar pemikiran yang mendasar, kemudian mereka akan berspekulasi. Tugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan. Apakah yang disebut logis? apakah yang disebut benar?. Dengan ini kita akan mengetahui bahwa semua pengatahuan yang sekarang ada dimulai dari spekulasi. Kemudian dari serangkaian spekulasi ini, akan muncul buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari penjelajahan ilmu pengetahuan.

Filsafat merupakan hasil menjadi sadarnya manusia mengenai dirinya sendiri sebagai pemikir, dan menjadi kritisnya manusia terhadap diri sendiri sebagai pemikir di dalam dunia yang dipikirnya. Sebagai konskuensinya, filusuf tidak hanya membicarakan dunia yang ada di sekitarnya serta dunia yang ada dalam dirinya, namun seorang filusuf juga harus membicarakan perbuatan berpikir itu sendiri.

Cabang ilmu filsafat yang membahas masalah ilmu adalah filsafat ilmu. Tujuan dari filsafat ilmu adalah menganalisis mengenai ilmu pengetahuan dan cara-cara bagaimana ilmu pengetahuan diperoleh. The Liang Gie mendefinisikan filsafat ilmu adalah segenap pemikiran yang reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun  hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.

Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistimologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu pengetahuan ilmiah. Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu seperti: obyek apa? Bagaimana hubungannya? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana prosesnya? Bagaimana prosedurnya? Hala apa saja yang perlu diperhatikan agar pengetahuan tersebut benar? Apakah kriteriannya? Bagaimana teknik/caranya?untuk apa pengetahuan tersebut? Bagaimana kaitan dengan ilmu lain?

 

  1. Ciri-ciri pikiran kefilsafatan

Diantara ciri ciri pikiran kefilsafatan yaitu:

  1. Suatu bagan konsepsional. Perenungan kefilsafatan berusaha untuk menyusun suatu bagan konsepsional. Konsepsi (rencana kerja) merupakan hasil generalisasi serta abstraksi dari pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses satu demi satu. Karena itu, filsafat merupakan pemikiran tenatnag hal-hal serta proses-proses dalam hubungan yang umum.
  2. Saling hubungan antar jawaban-jawaban kefilsafatan. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang satu harus menyangkut dengan pertanyaan-pertanyaan lain.
  3. Sebuah sistem filsafat harus bersifat koheren. Kefilsafatan harus berusaha menyusun suatu bagan yang koheren (runtut), yang konsepsional. Bagan konsepsial yang merupakan hasil perenungan kefilsafatan harus bersiat runtut.
  4. Filsafat merupakan pemikiran secara rasional. Bagan yang telah disusun harus logis pada setiap bagian-bagiannya. Secara logis yaitu harus saling berhubungan satu dengan yang lain.
  5. Filsafat senantiasa bersifat menyeluruh (komprehensif). Suatu sistem filsafat harus bersifat komprehensif tidak ada sesuatupun yang berada diluar jangkauannya.
  6. Suatu pandangan dunia. Perenungan kefilsafatan berusaha memahami segenap kenyataan dengan jalan menyusun suatu pandangan dunia. Didalam filsafat tidak boleh ada misteri, harus sepenuhnya mejelaskan tentang prinsip penjelasan yang dipakainya.
  7. Suatu definisi pendahuluan. Dalam perenungan kefilsafatan kita berusaha mencari dasar-dasar bagi kepercayaan kita. Sebuah definisi yang memadai untuk menjelaskan sesuatu menjadi bermakna seringkali tidak ditemukan pada permulaan, melainkan hanya pada akhir suatu penyelidikan.

 

  1. Sejarah Filsafat
  2. Yunani Kuno

Periode filsafat Yunani merupakan periode terpenting dalam sejarah peradaban manusia. Hal ini disebabkan karena pada saat itu terjadi perubahan pola pikir mitosentris yaitu pola pikir yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam. Pada saat itu, gempa bumi bukanlah suatu fenomena biasa melainkan suatu fenomena di mana Dewa Bumi yang sedang menggoyangkan kepalanya.

Pada periode ini muncullah filosof pertama yang mengkaji tentang asal usul alam  yaitu Thales (624-546 SM). Pada masa itu, Ia mengatakan bahwa asal alam adalah air karena unsur terpenting bagi setiap makhluk hidup adalah air. Air dapat berubah menjadi gas seperti uap dan benda padat seperti es, dan bumi ini juga berada di atas air. Sedangkan Heraklitos berpendapat bahwa segala yang ada selalu berubah dan sedang menjadi. Ia mempercayai bahwa arche (asas yang pertama dari alam semesta) adalah api. Api dianggapnya sebagai lambang perubahan dan kesatuan. Api mempunyai sifat memusnahkan segala yang ada dan mengubah sesuatu tersebut menjadi abu atau asap. Sehingga Heracllitos menyimpulkan bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini adalah bukan bahannya, melainkan aktor dan penyebabnya, yaitu api. Api adalah unsur yang paling asasi dalam alam karena api dapat mengeraskan adonan roti dan di sisi lain dapat melunakkan es. Artinya, api adalah aktor pengubah dalam alam ini, sehingga api pantas dianggap sebagai simbol perubahan itu sendiri.

 

  1. Zaman Kegelapan (Abad 12-13 M)

Zaman ini dikenal sebagai Abad Pertengahan. Filsafat pada jaman ini dikuasai oleh pemikiran keagamaan yaitu Kristiani. Puncak dari filsafat Kristiani adalah Patristik (Lt. “Patres”/Bapa-bapa Gereja) dan Skolastik Patristik. Skolastik Patristik dibagi menjadi dua yaitu Patristik Yunani (Patristik Timur) dan Patristik Latin (Patristik Barat). Tokoh-tokoh Patristik Yunani antara lain Clemens dari Alexandria (150-215), Origenes (185-254). Gregorius dari Naziane (330-390), Basilius (330-379). Tokoh-tokoh dari Patristik Latin antara lain Hilarius (315-367), Ambrosius (339-397), Hieronymus (347-420) dan Augustinus (354-430). Ajaran dari para Bapa Gereja ini adalah falsafi-teologis. Ajaran ini ingin memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. Ajaran-ajaran ini banyak pengaruh dari plotinos.

Pada jaman Skolastik pengaruh Ploinus diambil alaih oleh Aristoteles. Pada masa ini, pemikiran-pemikiran Aristoteles kembali dikenal dalam karya beberapa filsuf Yahudi maupun Islam yaitu melalui Avicena Ibn. Sina, 980-1037), Averroes (Ibn. Rushd, 1126-1198) dan Maimonides (1135-1204). Pengaruh Aristoteles sangatlah besar sehingga ia disebut sebagai “Sang Filsuf” sedangkan Averroes yang banyak membahas karya Aristoteles dijuluki sebagai “Sang Komentator”. Pertemuan pemikiran Aristoteles dengan iman Kristiani menghasilkan filsuf penting sebagian ordo Dominikan dan Fransiskan.

 

 

  1. Zaman Pencerahan (Abad 14-15 M)

Pada Abad Petengahan ini muncullah seorang astronom berkebangsaan Polandia. Astronom tersebut bernama N. Copernicus. Pada saat itu, N. Copernicus mengemukakan temuannya bahwa pusat peredaran benda-benda angkasa adalah matahari (Heleosentrisme). Namun temuan N. Copernicus ini tidak disambut baik oleh otoritas Gereja sebab mereka menganggap bahwa teori yang dikemukakan oleh N. Copernicus bertentangan dengan teori geosentrisme (Bumi sebagai pusat peredaran benda-benda angkasa) yang dikemukakan oleh Ptolomeus. Oleh karena itulah, N. Copernicus dihukum kurungan seumur hidup oleh otoritas Gereja.

Galilieo Galilei adalah seorang penemu terbesar di bidang ilmu pengetahuan. Ia mnemukan bahwa sebuah peluru yang ditembakkan membuat suatu gerak parabola, bukan gerak horisontal yang kemudian berubah menjadi gerak vertikal. Ia menerima pandangan bahwa matahari adalah pusat jagad raya. Dengan telekospnya, ia mengamati jagad raya dan menemukan bahwa bintang Bimasakti terdiri dari bintang-bintang yang banyak sekali jumlahnya dan masing-masing berdiri sendiri. Karena pandangannya yang bertentangan dengan tokoh Gereja akhirnya di hukum mati.

 

  1. Zaman Awal Modern (Abad 16 M)

Pada masa ini Kristen yang berkuasa dan menjadi sumber otoritas kebenaran mengalami kehancuran, dan juga awal abad kemunduran bagi umat Islam. Pada masa ini muncullah berbagai pemikiran Yunani antara lain rasionalisme, empirisrme, dan kritisme. Selain itu, masa ini juga memunculkan seorang intelektual yang bernama Gerard Van Cromona yang menyalin buku Ibnu Sina, “The canon of medicine”. Fransiscan Roger Bacon, yang menganut aliran pemikiran empirisme dan realisme  berusaha menentang berbagai kebijakan gereja dan penguasa saat itu. Dalam hal ini Galileo dan Copernicus juga mengalami penindasan dari penguasa. Masa ini juga menyebabkan perpecahan dalam agama Kristen, yaitu Kristen Katolik dan Protestan. Pada masa ini, para filsuf jaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari penguasa, tetapi dari diri mereka sendiri. Kemudian, terjadilah perbedaan pendapat dalam memahami aspek tersebut. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio yakni kebenaran pasti berasal dari (akal). Berbeda dengan aliran rasionalisme, aliran empirisme meyakini bahwa pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi. Kemudian, muncullah aliran kritisisme yang mencoba untuk memadukan kedua pendapat tersebut. Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M). Dalam buku Discouse de la Methode tahun 1637 ia menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai dasar yang kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segalanya secara metodis. Pelopr kaum rasionalis disebut Descartes. Kaum rasionalis ini percaya bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam pikiran.

 

  1. Zaman Modern (Abad 17-18 M)

Pada abad kedelapan belas mulai memasuki perkembangan baru. Filsuf-filsuf pada jaman ini disebut sebagai para empirikus, yang ajarannya lebih menekankan bahwa suatu pengetahuan adalah mungkin karena adanya pengalaman indrawi manusia. Para empirikus besar Inggris antara lain J. Locke (1632-1704), G. Berkeley (1684-1753) dan D. Hume (1711-1776), di Perancis JJ.Rousseau (1712-1778) dan di Jerman Immanuel Kant (1724-1804).

Immanuel Kant dalam karyanya yang berjudul Kritik der reinen vernunft (Ing. Critique of Pure Reason) yang terbit tahun 1781, memberi arah baru mengenai filsafat pengetahuan. Dalam bukunya itu Kant memperkenalkan suatu konsepsi baru tentang pengetahuan. Pada dasarnya dia tidak mengingkari kebenaran pengetahuan yang dikemukakan oleh kaum rasionalisme maupun empirisme, yang salah apabila masing-masing dari keduanya mengkalim secara ekstrim pendapatnya dan menolak pendapat yang lainnya. Dengan kata lain memang pengetahuan dihimpun setelah melalui (aposteriori) sistem penginderaan (sensory system) manusia, tetapi tanpa pikiran murni (a priori) yang aktif tidaklah mungkin tanpa kategorisasi dan penataan dari rasio manusia. Menurut Kant, empirisme mengandung kelemahan karena anggapan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia hanya lah rekaman kesan-kesan (impresi) dari pengalamannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia merupakan hasil sintesis antara yang apriori (yang sudah ada dalam kesadaran dan pikiran manusia) dengan impresi yang diperoleh dari pengalaman. Bagi Kant yang terpenting bagaimana pikiran manusia mamahami dan menafsirkan apa yang direkam secara empirikal, bukan bagaimana kenyataan itu tampil sebagai benda itu sendiri.

 

  1. Zaman Pos Modern (Abad 18-19 M)

Pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas perkembangan pemikiran filsafat pengetahuan memperlihatkan aliran-aliran besar: rasionalisme, empirisme dan idealisme dengan mempertahankan wilayah-wilayah yang luas. Dibandingkan dengan filsafat abad ketujuh belas dan abad kedelapan belas, filsafat abad kesembilan belas dan abad kedua puluh banyak bermunculan aliran-aliran baru dalam filsafat antara laian: positivisme, marxisme, eksistensialisme, pragmatisme, neokantianisme, neo-tomisme dan fenomenologi. Berkaitan dengan filosofi penelitian Ilmu Sosial, aliran yang tidak bisa dilewatkan adalah positivisme yang digagas oleh filsuf A. Comte (1798-1857). Menurut Comte pemikiran manusia dapat dibagi kedalam tiga tahap, yaitu :

  1. Positif-ilmiah.

Bagi era manusia dewasa (modern) ini pengetahuan hanya mungkin dengan menerapkan metode-metode positif ilmiah, artinya setiap pemikiran hanya benar secara ilmiah bilamana dapat diuji dan dibuktikan dengan pengukuran-pengukuran yang jelas dan pasti sebagaimana berat, luas dan isi suatu benda. Dengan demikian Comte menolak spekulasi “metafisik”, dan oleh karena itu ilmu sosial yang digagas olehnya ketika itu dinamakan “Fisika Sosial” sebelum dikenal sekarang sebagai “Sosiologi”. Bisa dipahami, karena pada masa itu ilmu-ilmu alam (Natural sciences) sudah lebih “mantap” dan “mapan”, sehingga banyak pendekatan dan metode-metode ilmu-ilmu alam yang diambil-oper oleh ilmu-ilmu sosial (Social sciences) yang berkembang sesudahnya.

 

  1. Filsafat Dalam Islam

Filsafat Islam muncul sebagai imbas dari gerakan penerjemahan besar-besaran dari buku-buku peradaban Yunani dan peradaban-peradaban lainnya pada masa kejayaan Daulah Abbasiah, dimana pemerintahan yang berkuasa waktu itu memberikan sokongan penuh terhadap gerakan penerjemahan ini, sehingga para ulama bersemangat untuk melakukan penerjemahan dari berbagai macam keilmuan yang dimiliki peradaban Yunani kedalam bahasa Arab, dan prestasi yang paling gemilang dari gerakan ini adalah ketika para ulama berhasil menerjemahkan ilmu filsafat yang mejadi maskot dari peradaban Yunani waktu itu, baik filsafat Plato, Aristoteles, maupun yang lainnya. Sebenarnya gerakan penerjemahan ini dimulai semenjak masa Daulah Umawiyyah atas perintah dari Khalid bin Yazid Al-Umawî untuk menerjemahkan buku-buku kedokteran, kimia dan geometria dari Yunani, akan tetapi para Ahli Sejarah lebih condong bahwa gerakan ini benar-benar dilaksanakan pada masa pemerintahan Daulah Abbasiah saja, dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Al-Manshur (136-158 H) hingga masa pamerintahan AL-Ma’mun (198-218 H), dimana penerjemahan ini tidak terbatas pada beberapa bidang keilmuan saja,akan tetapi meliputi berbagai cabang keilmuan sehingga kita bisa melihat lahirnya para ilmuan besar pada masa ini, contohnya Al-Kindi (155-256 H) seorang filosof besar yang menguasai beraneka bidang keilmuan, seperti matematika, astronomi, musik, geometri, kedokteran dan politik, disamping nama-nama besar yang muncul setelahnya, sebut saja Ar-Razi, Ibn Sina (370-428 H), Al-Farabi (359-438 H) dan yang lainnya.

Ada yang megatakan bahwa Islam tidak pernah dan bisa memiliki filsafat yang independen. Adapun filsafat yang dikembangkan oleh para filosof Muslim adalah pada dasarnya filsafat Yunani, bukan filsafat Islam. Ada lagi yang mengatakan bahwa nama yang tepat untuk itu adalah filsafat Muslim, karena yang terjadi adalah filsafat Yunani yang kemudian dipelajari dan dikembangkan oleh para filosof Muslim.

Ada lagi yang mengatakan bahwa nama yang lebih tepat adalah filsafat Arab, dengan alasan bahwa bahasa yang digunakan dalam karya-karya filosofis mereka adalah bahasa Arab, sekalipun para penulisnya banyak berasal dari Persia, dan namanama lainnya seperti filsafat dalam dunia Islam.

Adapun beliau sendiri cenderung pada sebutan filsafat Islam (Islamic philosophy), dengan setidaknya 3 alasan :

  1. Ketika filsafat Yunani diperkenalkan ke dunia Islam, Islam telah mengembangkan sistem teologi yang menekankan keesaan Tuhan dan syari’ah, yang menjadi pedoman bagi siapapun. Begitu dominannya Pandangan tauhid dan syari’ah ini,sehingga tidak ada suatu sistem apapun, termasuk filsafat, dapat diterima kecuali sesuai dengan ajaran pokok Islam tersebut (tawhid) dan pandangan syari’ah yang bersandar pada ajaran tauhid. Oleh karena itu ketika memperkenalkan filsafat Yunani ke dunia Islam, para filosof Muslim selalu memperhatikan kecocokannya dengan pandangan fundamental Islam tersebut, sehingga disadari atau tidak, telah terjadi “pengislaman” filsafat oleh para filosof Muslim.
  2. Sebagai pemikir Islam, para filosof Muslim adealah pemerhati flsafat asing yang kritis. Ketika dirasa ada kekurangan yang diderita oleh filsafat Yunani, misalanya, maka tanpa ragu-ragu mereka mengeritiknya secara mendasar. Misalnya, sekalipun Ibn Sina sering dikelompokkan sebagai filosof Peripatetik, namun ia tak segan-segan mengertik pandangan Aristoteles, kalau dirasa tidak cocok dan 1menggantikannnya dengan yang lebih baik. Beberapa tokoh lainnya seperti Suhrawardi, Umar b. Sahlan al-Sawi dan Ibn Taymiyyah, juga mengeriktik sistem logika Aristotetles. Sementara al-‘Amiri mengeritik dengan pedas pandangan Empedokles tentang jiwa, karena dianggap tidak sesuai dengan pandangan Islam.
  3. Adanya perkembangan yang unik dalam filsafat islam, akibat dari interaksi antara Islam, sebagai agama, dan filsafat Yunani. Akibatnya para filosof Muslim telah mengembangkan beberapa isu filsfat yang tidak pernah dikembangkan oleh para filosof Yunani sebelumnya, seperti filsafat kenabian, mikraj dsb.

 

  1. Pengaruh Filsafat Terhadap Dakwah/ Islam

Terdapat perbedaan pendapat dalam pengkajian pengaruh filsafat di dunia islam, dan di antaranya adalah :

  1. Sebenarnya pengaruh itu ada, akan tetapi tidak terpengaruh kedalam sistem ajaran islam. Bagaimanapun ajaran islam terpelihara secara utuh dan tidak tercampur aduk dengan filsafat sebagaimana agama diluar islam, islam tetaplah memiliki ajaran pokok yang sama dan tidak menyimpang. Pengaruh itu justru ada setelah wafatnya nabi Muhammad hususnya pada generasi ketiga kehalifahan.
  2. Pengaruh itu ada, bahkan sejak ditulisnya Al Qur’an. Kelompok ini disepakati oleh ijma’ sebagai pendapat kufur. Pandangan ini di motori oleh para kaum liberalis kontemporer.

Dalam perkembangannya dalam dunia islam, ilmu filsafat bisa di bagikan melalui tiga fase, diantaranya:

  1. Fase Intifa’ (Fase Menukil)

                     Umat islam mengenal filsafat Yunani beberapa tahun saja setelah meninggalnya Rosulullah SAW melalui negeri negeri yang di bebaskan oleh umat islam seperti, Irak, Syam dan Mesir (iskandariyah).  Daerah ini sebelumnya menjadi pusat dari studi filsafat bangsa Yunani.

Pada fase ini umat islam hannya sekedar mengenal saja dengan filsafat Yunani untuk mengenali medan Dakwah, mereka hannya melakukan pendekatan terhadap filsafat untuk sekedar bertukar fikiran, berdebat. Beberapa tahun kemudian mereka mulai berinterak si dengan para guru guru Filsafat yang mengajar disekolah sekolah dan perguruan tinggi.

Jadi pada masa ini, filsafat hannya digunakan untuk mempertahankan argumentasi tentang keislaman saja karena medan dakwah yang mengharuskan mereka mempelajari filsafat, karena tidak mungkin apabila diibaratkan dalam olah raga cabang foly (Filsafat) dilawan menggunakan olah raga sepakbola (ilmu keislaman) maka ini akan dianggap tidak sah.

 

  1. Fase Ikhtilaf (Berselisih)

Fase ini dimulai dari sebuah perdebatan sengit yang mempersoalkan masalah ushul, walaupun masih bisa dicari titik temunya. Perdebatan ini mulai ketika muncul istilah Qoadar (Kuasa) untuk menggantikan menggantikan makna Jabar (nasib), ide ini pertama kali diproklamasikan oleh Ma’bad Al Juhani (wafat 80 H.)

Hal yang menonjol pada fase ini adalah mulai menyebarnya paham Mu’tazilah yang di pelopori oleh Wasil bin  Atha’ wafat (131 H), ia adalah Murit dari Hasan Al Basri, akan tetapi ia sering berbeda pandangan dengan gurunya tersebut.  Kelompok Mu’tazilah dituduh sangat rasional dan tidak percaya dngan ketentuan Allah.  Ide Qodariah (Usaha atau mampu) ditengarai diperoleh dari ajaran Kristen Nestorian dari Syiria, ajaran ini berkembang di kota Basroh sebelum kota itu jatuh di tangan bangsa Muslim.

  1. Fase Ta’jub ( Fase Terkagum)

                    Fase ini ditandai dengan mulai disukainya waacana wacana Filsafat oleh kalangan muslim. Pada masa itu negara juga memfasilitasi para ilmuan muslim untuk mempelajari Filsafat, dengan mulai diterjemahkannya buku buku Filsafat kedalam bahasa Arab. Hal ini terjadi pada Masa pemerintahan Bani Abbasiyah yang lebih menonjolkan pada peradaban daripada perluasan wilayah seperti yang dilakukan oleh Pemerintahan bani Umayyah.

Berdirinya universitas universitas membuat kalangan Muslim waktu itu dapat melahirkan para pemikir yang sanggup jumpalitan dalam bidang Filsafat, bukan hannya wilayah teritorial Filsafat saja yang mereka Filsafati, tetapi juga Hal hal yang abtrak atau tidak terindra, seperti hal hal Ghoib dengan spekulasi tingkat tinggi bahkan ada yang tidak menggunakan dalil Qur’an dan Sunnah.

 

  1. Fase Terpengaruh dan Mengadopsi

                    Fase ini terjadi setelah umat islam mulai lemah dan tidak mempunyai supremasi lagi dalam bidang Politik, Militer dan ekonomi terutama sejak abad ke XIII H, ketika nperadaban Dunia justru mulai dikuasai bangsa barat. Pada waktu inilah umat islam mulai tidak percaya diri dengan Hasanah keilmuannya dan mulai mengadopsi keilmuan bangsa barat dengan tidak disertakannya Filter dalam pengadopsian tersebut.  Bagaimanapun sebenarnya pengadopsian Filsafat barat kedalam bangsa timur tidak bisa dibenarkan, karena keduanya mempunyai latar belakang keagamaan yang berbeda baik dalam segi Agama, sosial dan budaya. Karena sebuah pengetahuan tidak  bisa diadobsi begitu saja akan tetapi seharusnya di adaptasi sehingga tidak merusak tatana  yang sudah benar adanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Sejarah filsafat : Zaman Yunani Kuno, Periode filsafat Yunani merupakan periode terpenting dalam sejarah peradaban manusia, Zaman Kegelapan, Zaman ini dikenal sebagai Abad Pertengahan. Filsafat pada jaman ini dikuasai oleh pemikiran keagamaan yaitu Kristiani, Zaman Pencerahan, Pada Abad Petengahan ini muncullah seorang astronom berkebangsaan Polandia. Astronom tersebut bernama N. Copernicus dan Zaman Awal Modern, Pada masa ini Kristen yang berkuasa dan menjadi sumber otoritas kebenaran mengalami kehancuran, dan juga awal abad kemunduran bagi umat Islam.
  3. Filsafat islam : Filsafat Islam muncul sebagai imbas dari gerakan penerjemahan besar-besaran dari buku-buku peradaban Yunani dan peradaban-peradaban lainnya pada masa kejayaan Daulah Abbasiah, dimana pemerintahan yang berkuasa waktu itu memberikan sokongan penuh terhadap gerakan penerjemahan ini, sehingga para ulama bersemangat untuk melakukan penerjemahan dari berbagai macam keilmuan yang dimiliki peradaban Yunani kedalam bahasa Arab, dan prestasi yang paling gemilang dari gerakan ini adalah ketika para ulama berhasil menerjemahkan ilmu filsafat yang mejadi maskot dari peradaban Yunani waktu itu, baik filsafat Plato, Aristoteles, maupun yang lainnya.
    1. Pengaruh filsafat terhadap dakwah : Pengaruh itu ada, bahkan sejak ditulisnya Al Qur’an. Kelompok ini disepakati oleh ijma’ sebagai pendapat kufur. Pandangan ini di motori oleh para kaum liberalis kontemporer. Dalam perkembangannya dalam dunia islam, ilmu filsafat bisa di bagikan melalui tiga fase : (a). Fase intifa’ (Fase menukil), (b). Fase Ikhtilaf (berselisih), (c). Fase terpengaruh dan Mengadopsi

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Abdul Khakim, Atang, M.A Drs. dan Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si. 2008 Filsafat Umum Daru Mitologi Sampai Teofilosofi, Bandung, Pustaka Ceria
  • Mufid, Muhammad, 2010, Etika Dan Filsafat Komunikasi, Jakarta, Kencana
  • Rizal, Mustansyir, M.Hum, Drs dan Drs Misnal Munir, M. Hum, 2006, Filsafat Ilmu, Yogyakarta, Pustaka Pelajar

 

[1][1] Berpikiran maju antara lain ditandai dengan pemikiran sifat terbuka, rasional, kritis objektif, berorientasi kedepan, dinamis dan mau mengikuti perubahan zaman, tanpa meninggalkan prinsip atau ajaran yang bersifat asasi.

[2][2] Diantara kitab yang berisi tentang mantiq (logika) yang dikaji di kalangan pesantren adalah sulamut taufik, sebuah kitab kecil yang berisikan kaidah-kaidah yang mengenai cara berpikir logis.

[3][3] Orang lupa bahwa ketika Al-Ghazali menyerang konsepsi metafisika Ibn Sina, sebenarnya bukan secara serta merta dia memvonis seluruh kajian filsafat. Logika, matimatika, natural, science, tidak ikut terserang. Bahkan Al-Ghazali sendiri sangat menyayangkan adanya sikap perduice kaum teolog (ulama) terhadap ilmu-ilmu ini  karena hal ini akan melemahkan dan membahayakan unuk agama itu sendiri. Amat disayangkan umat islam pada umumnya menganggap kritik Al-Ghazali tersebut juga kritik untuk seluruh kajian filsafat, termasuk didalamnya logika, etika, filsafat agama, filsafat ilmu, filsafat bahasa, dan filsafat sosial. Memahami kritik Al-Ghazali terhadap Ibn Sina tanpa terkecuali tidak benar.

 

LATIHAN WORDPRESS, KPI UNSIQ

“Yen wis tibo titiwancine kali-kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange, wong wadon ilang wirange, mangka enggal – enggala tapa lelana njlajah desa milang kori patang sasi aja ngasik balik yen durung oleh pituduh saka Gusti Allah”

ARTINYA :

“Jika sudah tiba zamannya dimana sungai-sungai hilang kedalamannya (banyak orang berilmu tidak mengamalkan ilmunya), pasar hilang gaungnya (pasar orang beriman adalah masjid, jika masjid-masjid tak ada adzan), wanita-wanita hilang malunya (tidak menutup aurat), maka cepat-cepatlah kalian keluar empat bulan dari desa ke desa (dari kampung ke kampung) dari pintu ke pintu (dari rumah ke rumah untuk berdakwah) janganlah pulang sebelum mendapat hidayah Allah SWT.”